Demo di Iran Meluas, Rencana Ayatollah Ali Khamenei Kabur ke Rusia Dibocorkan Media Inggris
Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan berencana melarikan diri ke Rusia.
Ringkasan Berita:
- Media Inggris The Times menurunkan ulasan rencana Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melarikan diri ke Rusia
- Khamenei (86 tahun) berencana melarikan diri bersama 20 orang, termasuk keluarga dan para pembantu terdekatnya
- Rencana pelarian Khamenei mirip aksi pelarian mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang kabur dari Suriah menuju Rusia saat rezim itu runtuh pada November 2024.
TRIBUNNEWS.COM, IRAN - Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan berencana melarikan diri ke Rusia.
Rencana itu akan diwujudkan jika unjuk rasa yang terjadi sejumlah wilayah di Iran terus meningkat.
Demikian dilaporkan media Inggris The Times, Minggu (4/1/2026), dengan menyebutnya sebagai 'Rencana B'.
Media itu melaporkan Khamenei (86 tahun) berencana melarikan diri bersama 20 orang, termasuk keluarga dan para pembantu terdekatnya.
"Keluarga termasuk putranya dan calon pewaris takhta, Mojtaba,” tulis The Times mengutip sumber intelijen.
Ayatollah Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran sejak tahun 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini.
Sebagai pemimpin tertinggi, dia memegang kekuasaan atas militer, kehakiman, media, dan kebijakan luar negeri.
Dan yang lebih penting adalah mengendalikan militer Garda Revolusi Islam (IRGC) serta memiliki pengaruh besar atas pemilihan presiden maupun parlemen.
Apa yang terjadi di Iran?
Memasuki hari kedelapan, aksi demo di Iran semakin meluas hingga ke 222 lokasi di 78 kota di Iran.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) melaporkan aksi protes dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi.
Sebanyak 20 orang tewas hingga saat ini.
Kepala Kepolisian Iran, Ahmadreza Radan menduga terdapat unsur penghasutan dan campur tangan asing atas kerusuhan tersebut.
Dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (6/1/2025), unjuk rasa melibatkan mahasiswa, buruh, serta warga sipil.
Mereka tetap bertahan meski aparat keamanan dikerahkan dalam jumlah besar.
HRANA menyebut sedikitnya 17 universitas menjadi pusat aksi mahasiswa yang menuntut perbaikan kondisi ekonomi dan perluasan kebebasan sipil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemimpin-Tertinggi-Iran-Ali-Khamenei-bertemu-Putin.jpg)