Kamis, 28 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Sebut Khamenei 'Orang Sakit', Desak Pergantian Kepemimpinan di Iran Segera

Presiden AS, Donald Trump menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei sebagai orang sakit dan harus diganti segera mungkin.

Tayang:
Penulis: Whiesa Daniswara
Kolase Tribunnews/The White House/X @khamenei_ir
AMERIKA VS IRAN - Kolase foto Presiden AS Donald Trump saat memberikan pidato dari Gedung Putih pada 18 Desember 2025 (kiri) dan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bertemu dengan sejumlah pimpinan dan fakultas Universitas Shahid Motahari di Teheran pada 3 Juli 2024 (kanan). Trump melontarkan kritikan pedas kepada Khamenei dengan menyebutnya sebagai 'orang sakit' dan harus diganti secepat mungkin. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden AS Donald Trump menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei sebagai 'orang sakit' dan harus diganti secepat mungkin.
  • Kritikan dari Trump ini sebagai respons atas pernyataan Khamenei yang menuduh AS sebagai dalang di balik demonstrasi berdarah di Iran.
  • Trump bahkan menyindir cara Khamenei dalam memimpin Iran yang disebutnya penuh dengan teror menakutkan.

TRIBUNNEWS.COM - Kritikan pedas kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Dalam komentar terbarunya, Trump menyerukan diakhirinya kekuasaan Khamenei di Iran.

Trump bahkan menyebut Khamenei sebagai 'orang sakit' dan harus diganti secepat mungkin dengan pemimpin yang lebih fokus pada kesejahteraan rakyat daripada kekerasan.

Komentar tajam ini muncul pada Sabtu (17/1/2026) sebagai respons atas pernyataan Khamenei di platform media sosial X, yang menuduh Trump sebagai dalang di balik gelombang protes berdarah yang mengguncang Iran baru-baru ini.

"Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran," kata Trump, seperti yang dikutip Politico.

Trump juga menyindir cara Khamenei dalam memimpin negara.

"Kepemimpinan itu soal rasa hormat, bukan ketakutan dan kematian."

"Dia harus berhenti membunuh rakyatnya sendiri dan mulai menjalankan negaranya dengan benar, seperti yang saya lakukan di Amerika Serikat," cetusnya.

Selain kekerasan fisik, pemerintah Iran juga memperpanjang pemutusan akses internet hingga akhir Maret mendatang.

Langkah ini diklaim oleh media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai "praktik internasional yang umum".

Namun, Departemen Luar Negeri AS mengkritik keras langkah tersebut.

Baca juga: Pengunjuk Rasa Iran Merasa Dikhianati Donald Trump, Bantuan Tak Datang

Melalui akun resmi berbahasa Persia, AS menyatakan bahwa isolasi internet ini membuktikan betapa rendahnya rasa percaya diri rezim Teheran terhadap legitimasi mereka sendiri.

Kondisi keamanan yang kian tidak menentu juga memaksa pemerintah Jepang mulai mengevakuasi sebagian staf kedutaan besarnya di Teheran dan memperingatkan warganya untuk segera meninggalkan Iran.

Pengakuan Khamenei

Khamenei pada hari Sabtu mengakui bahwa ribuan warga Iran tewas selama lebih dari dua minggu kerusuhan di negara itu.

Dalam pidato kebangsaannya, Khamenei menjuluki Trump sebagai seorang "kriminal" dan menuding Washington berada di balik gelombang protes berdarah yang mengguncang Iran baru-baru ini.

Pemimpin Tertinggi Iran itu menegaskan bahwa aksi protes tersebut bukanlah aspirasi murni rakyat, melainkan plot yang disusun oleh musuh-musuh Iran.

Dirinya menyebut para demonstran sebagai "prajurit lapangan" Amerika yang bertujuan merusak stabilitas negara.

"Kami menganggap Presiden AS sebagai seorang kriminal atas jatuhnya korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan fitnah terhadap bangsa Iran," tegas Khamenei, dikutip dari CNN.

Ia juga menuduh Trump secara pribadi melakukan intervensi dengan memberikan pernyataan yang membakar semangat para perusuh.

Menurut Khamenei, dukungan terbuka Washington, termasuk janji dukungan militer, menjadi faktor utama eskalasi kekerasan di berbagai kota.

Pernyataan keras ini muncul hanya beberapa hari setelah Trump menyatakan kepada media bahwa ia menerima laporan tentang penghentian pembunuhan demonstran oleh aparat Iran.

Trump sempat melunakkan nadanya dengan menyebut adanya kemungkinan dialog jika kekerasan benar-benar berakhir.

Namun, pidato Khamenei justru menunjukkan ketegangan yang kian memuncak.

Alih-alih meredakan situasi, ia menyerukan agar aparat keamanan "mematahkan punggung para pemberontak" dan menegaskan bahwa hukum akan ditegakkan dengan sangat tegas bagi para pelanggar domestik maupun aktor internasional yang terlibat.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved