Sabtu, 16 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Kembali Desak Iran, Minta Era 37 Tahun Khamenei Harus Diakhiri

Trump desak akhiri 37 tahun kekuasaan Khamenei di Iran. Teheran bereaksi keras, menyebut seruan itu ancaman perang yang bisa memicu konflik global.

Tayang:
Kolase Tribunnews
AMERIKA VS IRAN - Kolase foto Presiden AS Donald Trump saat memberikan pidato dari Gedung Putih pada 18 Desember 2025 (kiri) dan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bertemu dengan sejumlah pimpinan dan fakultas Universitas Shahid Motahari di Teheran pada 3 Juli 2024 (kanan). Trump desak akhiri 37 tahun kekuasaan Khamenei di Iran. Teheran bereaksi keras, menyebut seruan itu ancaman perang yang bisa memicu konflik global. 
Ringkasan Berita:
  • Trump secara terbuka menyerukan pengakhiran 37 tahun kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei, menuding rezim Iran bertumpu pada penindasan, kekerasan, dan kegagalan ekonomi di tengah gelombang protes besar.
  • Teheran menilai pernyataan Trump sebagai ancaman langsung terhadap sistem Republik Islam, karena serangan politik atau fisik terhadap Khamenei sama dengan deklarasi perang besar-besaran.
  • Ketegangan AS–Iran meningkatkan ancaman konflik regional, krisis energi global, hingga bencana kemanusiaan.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyerukan diakhirinya pemerintahan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang telah berkuasa selama 37 tahun.

“Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran,” kata Trump, menegaskan bahwa perubahan politik di Teheran dinilai sebagai kebutuhan mendesak

Pernyataan keras itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Politico, di tengah gelombang protes besar yang mengguncang ibukota Teheran akibat krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang rial Iran.

Dalam narasinya, Trump menilai bahwa kepemimpinan Khamenei selama 37 tahun bertumpu pada penindasan sistematis dan penggunaan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.

Ia menuduh pemerintah Iran menggunakan eksekusi massal, penangkapan besar-besaran, serta pembatasan komunikasi nasional, termasuk pemadaman internet, sebagai alat untuk membungkam perlawanan publik.

Trump secara terbuka menyalahkan Khamenei atas jatuhnya ribuan korban jiwa dalam penanganan demonstrasi anti-pemerintah, yang menurut kelompok hak asasi manusia dilakukan secara brutal dan tanpa akuntabilitas.

Trump juga mengaitkan krisis internal Iran dengan kegagalan kepemimpinan politik dan ekonomi di bawah Khamenei.

Ia menyebut Iran sebagai negara yang mengalami “kehancuran total”, dengan ekonomi terpuruk, isolasi internasional yang semakin dalam, serta meningkatnya ketidakpuasan rakyat akibat sanksi, inflasi, dan pengangguran.

Tak sampai disitu, Trump bahkan menyebut Khamenei sebagai “orang sakit” menyatakan bahwa Iran di bawah kepemimpinannya telah berubah menjadi salah satu tempat terburuk untuk ditinggali di dunia.

Alasan ini yang mendorong Trump agar Iran segera menyerukan perubahan kepemimpinan serta memaksa Teheran mengubah arah kebijakan domestik dan luar negerinya.

Dengan mengangkat isu kepemimpinan, Trump berusaha menegaskan dukungannya terhadap para demonstran dan membangun narasi bahwa perubahan di Iran merupakan tuntutan rakyat, bukan semata intervensi asing.

Baca juga: AS Kerahkan Armada Kapal Perang ke Timur Tengah, Spekulasi Serangan ke Iran Mencuat Lagi

“Agar negara tetap berfungsi, meskipun pada tingkat yang sangat rendah, kepemimpinan harus fokus mengelola negaranya dengan benar, bukan membunuh ribuan orang demi mempertahankan kekuasaan,” ujar Trump, dikutip dari The Guardian.

Teheran Beri Peringatan Keras

Merespon pernyataan Trump terkait diakhirinya kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Pemerintah Iran langsung melontarkan pernyataan keras.

Teheran menilai pernyataan tersebut bukan sekadar retorika politik, melainkan bentuk ancaman langsung terhadap sistem Republik Islam dan kedaulatan negara.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa setiap bentuk serangan dari Amerika Serikat (AS) ke negaranya yang berujung provokasi dan mengakibatkan terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu berarti akan "sama dengan perang berskala besar terhadap bangsa Iran.

Sikap ini disampaikan melalui pernyataan resmi para pejabat tinggi Iran yang menegaskan bahwa posisi Pemimpin Tertinggi merupakan pilar utama negara dan simbol persatuan nasional.

Dalam klaim resmi Teheran, seruan Trump dipandang sebagai upaya campur tangan asing yang terang-terangan dalam urusan domestik Iran.

Pemerintah Iran menuduh Washington berusaha memanfaatkan gelombang protes internal untuk melemahkan struktur kekuasaan dan mendorong perubahan rezim.

Otoritas Iran juga mengaitkan pernyataan Trump dengan tekanan ekonomi, sanksi internasional, serta dukungan AS terhadap Israel, yang selama ini dianggap sebagai musuh utama Iran di kawasan.

Respons keras Iran ini sekaligus dimaksudkan sebagai pesan pencegahan atau deterrence kepada Amerika Serikat dan sekutunya.

Dengan menyebut serangan terhadap Khamenei sebagai pemicu perang besar-besaran, Iran berupaya menaikkan biaya strategis bagi pihak manapun yang mempertimbangkan langkah ekstrem.

Teheran juga ingin menegaskan kepada komunitas internasional bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah akan terancam jika tekanan terhadap kepemimpinan Iran terus ditingkatkan.

Dampak Fatal Jika Konflik AS–Iran Meletus

Meski kedua belah pihak belum benar-benar melakukan serangan, namun jika perang benar-benar pecah antara Amerika Serikat dan Iran terutama dipicu oleh serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dampaknya akan sangat luas dan berlapis.

Tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga kawasan Timur Tengah dan dunia. Ini karena Iran hampir pasti tidak akan menghadapi AS sendirian.

Teheran memiliki jaringan sekutu dan kelompok proksi di Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, dan Gaza. Serangan balasan bisa menyasar pangkalan militer AS, kepentingan Israel, serta jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.

Akibatnya kawasan Timur Tengah berisiko berubah menjadi medan perang multipihak dalam waktu singkat.

Stabilitas ekonomi global akan terguncang. Iran menguasai posisi strategis di Selat Hormuz, jalur sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia.

Jika jalur ini terganggu, harga minyak dan energi global hampir pasti melonjak tajam. Dampaknya akan terasa langsung pada inflasi, biaya transportasi, dan harga kebutuhan pokok di banyak negara, termasuk negara-negara berkembang.

Lebih lanjut, risiko krisis kemanusiaan akan meningkat drastis. Perang berskala besar akan memicu korban sipil, pengungsian massal, dan runtuhnya infrastruktur penting di Iran maupun negara-negara sekitarnya.

Lembaga kemanusiaan internasional akan menghadapi tekanan besar, sementara akses bantuan bisa terhambat oleh konflik bersenjata dan blokade.

Ancaman jangka panjang terhadap keamanan global juga meningkat. Perang dapat mendorong perlombaan senjata, memperkuat kelompok ekstremis, serta melemahkan rezim nonproliferasi nuklir.

Jika Iran merasa eksistensinya terancam, tekanan untuk mempercepat program pertahanan strategis bisa semakin besar.

Singkatnya, jika perang benar-benar pecah, dampaknya tidak akan terbatas pada konflik dua negara.

Dunia akan menghadapi risiko krisis energi, instabilitas kawasan, bencana kemanusiaan, dan ketegangan global yang berpotensi berlangsung lama.

(Tribunnews.com / Namira)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved