5 Populer Internasional: Kontroversi Nobel Perdamaian Trump - Demo Besar-besaran di AS Terkait Iran
Kompilasi berita populer internasional hari ini, di antaranya demo besar-besaran di Amerika terkait kondisi di Iran.
Namun, pada 15 Januari 2026, Machado memberikan medali Nobel tersebut kepada Donald Trump.
Mengutip USA Today, keputusan Machado untuk menyerahkan medali itu kepada Trump tidak mengubah penerima resmi penghargaan tersebut, kata Yayasan Nobel dalam pernyataan tertanggal 18 Januari.
“Yayasan Nobel memiliki tujuan untuk menjaga martabat Hadiah Nobel dan administrasinya serta menjunjung tinggi wasiat Alfred Nobel dan ketentuan-ketentuannya,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
“Penghargaan diberikan kepada mereka yang telah memberikan manfaat terbesar bagi umat manusia, dan ketentuan tersebut menetapkan siapa yang berhak menerima masing-masing penghargaan.”
“Oleh karena itu, penghargaan tersebut tidak dapat, bahkan secara simbolis, diteruskan atau didistribusikan kepada pihak lain.”
Mengutip New York Post, Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menuntut agar Yayasan Nobel setidaknya menyoroti pencapaian Trump jika ia tidak dapat dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.
Cheung berpendapat bahwa Trump berhak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian atas upayanya mengakhiri konflik global di berbagai belahan dunia.
“Alih-alih mencoba bermain politik, mereka seharusnya menyoroti prestasi Presiden yang belum pernah terjadi sebelumnya,” sindir Cheung melalui akun X miliknya, Senin (19/1/2026).
5. Trump Kembali Desak Iran, Minta Era 37 Tahun Khamenei Harus Diakhiri
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyerukan diakhirinya pemerintahan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang telah berkuasa selama 37 tahun.
“Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran,” kata Trump, menegaskan bahwa perubahan politik di Teheran dinilai sebagai kebutuhan mendesak
Pernyataan keras itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Politico, di tengah gelombang protes besar yang mengguncang ibukota Teheran akibat krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang rial Iran.
Dalam narasinya, Trump menilai bahwa kepemimpinan Khamenei selama 37 tahun bertumpu pada penindasan sistematis dan penggunaan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.
Ia menuduh pemerintah Iran menggunakan eksekusi massal, penangkapan besar-besaran, serta pembatasan komunikasi nasional, termasuk pemadaman internet, sebagai alat untuk membungkam perlawanan publik.
Trump secara terbuka menyalahkan Khamenei atas jatuhnya ribuan korban jiwa dalam penanganan demonstrasi anti-pemerintah, yang menurut kelompok hak asasi manusia dilakukan secara brutal dan tanpa akuntabilitas.
Trump juga mengaitkan krisis internal Iran dengan kegagalan kepemimpinan politik dan ekonomi di bawah Khamenei.
Ia menyebut Iran sebagai negara yang mengalami “kehancuran total”, dengan ekonomi terpuruk, isolasi internasional yang semakin dalam, serta meningkatnya ketidakpuasan rakyat akibat sanksi, inflasi, dan pengangguran.
Tak sampai disitu, Trump bahkan menyebut Khamenei sebagai “orang sakit” menyatakan bahwa Iran di bawah kepemimpinannya telah berubah menjadi salah satu tempat terburuk untuk ditinggali di dunia.
Alasan ini yang mendorong Trump agar Iran segera menyerukan perubahan kepemimpinan serta memaksa Teheran mengubah arah kebijakan domestik dan luar negerinya.
Dengan mengangkat isu kepemimpinan, Trump berusaha menegaskan dukungannya terhadap para demonstran dan membangun narasi bahwa perubahan di Iran merupakan tuntutan rakyat, bukan semata intervensi asing.
“Agar negara tetap berfungsi, meskipun pada tingkat yang sangat rendah, kepemimpinan harus fokus mengelola negaranya dengan benar, bukan membunuh ribuan orang demi mempertahankan kekuasaan,” ujar Trump, dikutip dari The Guardian.
(Tribunnews.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BERITA-POPULER-INTERNASIONAL-20jan26.jpg)