Rabu, 13 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Sandera Terakhir Ditemukan di Gaza, Israel Diuji Soal Komitmen Gencatan Senjata

Jenazah sandera terakhir Israel ditemukan di Gaza. Janji pembukaan Rafah dan bantuan kemanusiaan kini dipertanyakan, sementara gencatan senjata diuji.

Tayang:
Tangkapan layar YouTube Al Jazeera English
SITUASI GAZA - Tangkapan layar YouTube Al Jazeera English pada Rabu (19/2/2025) menunjukkan situasi di Gaza pada Rabu (19/2/2025) setelah gencatan senjata dimulai sejak 19 Januari 2025. Jenazah sandera terakhir Israel ditemukan di Gaza. Janji pembukaan Rafah dan bantuan kemanusiaan kini dipertanyakan, sementara gencatan senjata diuji. 

Ringkasan Berita:
  • Jenazah Ran Gvili ditemukan di Jalur Gaza, menandai selesainya kewajiban Hamas mengembalikan seluruh sandera Israel sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS.
  • Setelah seluruh sandera dipulangkan, Hamas menuntut Israel menepati janji membuka Perlintasan Rafah secara penuh, namun kini pembukaan masih terbatas.
  • Operasi militer Israel yang terus berlangsung di Gaza memicu kekhawatiran pelanggaran gencatan senjata, menjadikan momen ujian bagi Israel terhadap perdamaian berkelanjutan.

TRIBUNNEWS.COM - Militer Israel mengumumkan bahwa jenazah Ran Gvili, polisi Israel, yang tewas pada 7 Oktober 2023 dan menjadi tawanan di Jalur Gaza, telah ditemukan.

Penemuan ini menandai berakhirnya kewajiban Hamas untuk mengembalikan semua 251 sandera, hidup atau mati, sesuai kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat pada Oktober 2023.

“Setelah proses identifikasi selesai oleh Pusat Kedokteran Forensik Nasional bekerja sama dengan Kepolisian Israel dan Rabbinat Militer, perwakilan militer memberitahu keluarga almarhum bahwa jenazah Ran Gvili telah dikembalikan untuk dimakamkan,” kata juru bicara militer, Avichay Adraee.

“Dengan demikian, semua sandera yang ditahan di Jalur Gaza telah dipulangkan.” imbuhnya, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Hamas menegaskan bahwa pengembalian jenazah tawanan merupakan komitmen mereka terhadap tahap pertama perjanjian, sekaligus menekankan bahwa Israel kini harus menunaikan semua kewajibannya.

Oleh karenanya pasca kewajiban dilaksanakan, kelompok tersebut menyerukan agar Israel segera menepati sejumlah kesepakatan yang sebelumnya telah dijanjikan.

“Kami telah memenuhi semua kewajiban kami dengan cara yang jelas dan bertanggung jawab. Kini giliran Israel untuk melaksanakan janji-janji mereka tanpa penundaan,” kata juru bicara Hamas dalam pernyataan resmi.

Janji Israel Dipertanyakan

Adapun salah satu janji yang paling disorot adalah komitmen Israel untuk membuka kembali Perlintasan Rafah secara penuh.

Dalam kesepakatan yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan Mesir, Israel menyatakan Israel menyatakan kesediaannya membuka jalur Rafah setelah seluruh sandera Israel, baik yang masih hidup maupun yang meninggal dunia, dikembalikan.

Baca juga: Israel Gelar Operasi Skala Besar Temukan Sandera Terakhir di Gaza, Lanjutkan Fase 2 Gencatan Senjata

Namun, realisasi di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Setelah jenazah Ran Gvili diserahkan, Perlintasan Rafah hanya dibuka secara terbatas dan tetap berada di bawah pengawasan ketat Israel.

Bahkan jalur itu belum difungsikan sepenuhnya untuk arus besar bantuan kemanusiaan maupun pergerakan warga sipil.

Sehingga jumlah bantuan yang masuk ke Gaza dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Hal tersebut turut dikonfirmasi oleh Jurnalis Al Jazeera di Gaza, Hind Khoudary.

Ia menilai bahwa momen penyerahan sandera yang seharusnya menjadi titik balik justru belum diikuti dengan pemenuhan janji-janji utama.

Khoudary menyebut jumlah bantuan yang masuk ke Gaza masih jauh dari target yang disepakati.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved