Selasa, 5 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

7 Bulan Gencatan Senjata, 8.000 Jenazah Warga Palestina Terjebak di Reruntuhan Rumah Mereka Sendiri

Menurut data Pertahanan Sipil Gaza dan Haaretz, setidaknya 8.000 warga Palestina masih terjebak di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Sejak gencatan senjata antara Israel dan Palestina yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) diberlakukan pada 10 Oktober 2025 lalu, Gaza menjadi bidang luas kuburan massal.
  • Setidaknya 8.000 jenazah warga Palestina masih terjebak di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.
  • Namun, upaya evakuasi ribuan jenazah itu terhambat oleh berbagai faktor, seperti kurangnya alat berat dan peralatan khusus, ancaman amunisi yang belum meledak, hingga proses birokrasi yang rumit.

TRIBUNNEWS.COM - Duka dan pilu seolah masih enggan meninggalkan tanah Palestina.

Hampir tujuh bulan berlalu sejak gencatan senjata antara Israel dan Palestina yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) diberlakukan pada 10 Oktober 2025 lalu, Gaza menjadi bidang luas kuburan massal yang hingga kini masih belum terpetakan.

Data dari Gaza's Civil Defence (Pertahanan Sipil Gaza) dan laporan terbaru dari Haaretz menunjukkan, setidaknya 8.000 jenazah warga Palestina masih terjebak di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.

Ironisnya, jenazah-jenazah mengalami pembusukan, dan sebagian besar belum berhasil dievakuasi atau dimakamkan dengan layak oleh keluarga mereka.

Puing-puing reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel, menjadi pemakaman bagi ribuan warga tersebut.

Sejatinya, sudah banyak keluarga Palestina yang sudah mengetahui koordinat atau titik lokasi jenazah orang-orang tercinta mereka yang tertimpa reruntuhan.

Ribuan telepon dari kerabat atau keluarga yang menginfokan koordinat tersebut telah diterima oleh tim Gaza's Civil Defence.

Namun, sekadar memakamkan jenazah orang-orang tercinta mereka dengan layak pun bukanlah hal yang mudah.

Upaya evakuasi jenazah untuk dimakamkan terhambat oleh berbagai faktor yang berkelindan, antara tidak memadainya alat berat dan peralatan khusus, masih adanya amunisi yang belum meledak, hingga proses birokrasi yang rumit.

Puing-puing Reruntuhan: Tak Ada Alat Berat, Biaya Besar, dan Belum Bisa Dibersihkan

Ribuan jenazah terkubur di bawah puing-puing dan sisa-sisa material bangunan yang hingga kini masih terbengkalai.

Meskipun ada gencatan senjata, pemulihan wilayah Palestina yang terdampak serangan bombardir Israel hampir tidak ada; Hingga kini, baru kurang dari satu persen dari 68 juta metrik ton puing-puing reruntuhan yang bisa dibersihkan.

Baca juga: 8 Negara Mayoritas Muslim Kutuk UU Hukuman Mati Israel bagi Warga Palestina, Ada Indonesia

Upaya pembersihan dan pemulihan wilayah yang diharapkan berlangsung selama periode gencatan senjata justru terhenti di lingkungan paling parah terdampak, misalnya Shujaiyeh dan Tuffah di Kota Gaza.

Dengan skala kehancuran yang masif, pembersihan puing reruntuhan saja di Gaza diperkirakan akan menelan biaya lebih dari 1,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp17,4 triliun.

Angka tersebut didapat berdasarkan penilaian bersama yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Bank Dunia, dan Uni Eropa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved