Amerika Versus Venezuela
RQ-170 Sentinel: Drone Rahasia Amerika yang Membantu Menjatuhkan Maduro
Lockheed Martin mengonfirmasi drone rahasia RQ-170 Sentinel berperan dalam operasi militer AS di Venezuela.
Ringkasan Berita:
- Lockheed Martin mengonfirmasi drone rahasia RQ-170 Sentinel berperan dalam operasi militer AS di Venezuela.
- Drone berteknologi siluman ini digunakan untuk pengintaian pasif dan memberikan kesadaran situasional secara real time.
- Sentinel sebelumnya juga terlibat dalam misi penting di Iran, Pakistan, Korea Selatan, dan Laut Hitam.
TRIBUNNEWS.COM - Lockheed Martin mengonfirmasi bahwa pesawat nirawak RQ-170 Sentinel yang sangat rahasia, memainkan peran dalam operasi militer AS baru-baru ini di Venezuela, lapor AOL.com.
Dalam panggilan konferensi pendapatan triwulanan, Kamis (29/1/2026), CEO Lockheed Martin Jim Taiclet menguraikan bagaimana produk bersistem canggih perusahaannya, mendukung “Operasi Absolute Resolve”.
Ia menyebutkan pesawat tempur F-35 dan F-22, helikopter Sikorsky Black Hawk, serta UAV RQ-170 Sentinel sebagai elemen kunci dalam misi tersebut.
Operasi itu mencapai puncaknya pada 3 Januari 2026 dengan penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, yang membuat salah satu sistem militer paling dirahasiakan itu menjadi sorotan publik.
Video-Video Kemunculan Sentinel Beredar di Media Sosial
Rekaman yang beredar di media sosial setelah penangkapan Maduro menunjukkan setidaknya satu unit RQ-170 kembali ke Pangkalan Angkatan Laut Roosevelt Roads di Puerto Rico beberapa jam setelah operasi selesai.
Pangkalan tersebut berfungsi sebagai pusat bagi pesawat yang terlibat dalam misi tersebut, dan gambar-gambar itu memberikan petunjuk visual pertama tentang keberadaan drone di wilayah tersebut.
Meskipun militer AS mengonfirmasi keterlibatan berbagai jenis pesawat, mereka tidak secara eksplisit menyebutkan Sentinel hingga adanya konfirmasi dari Lockheed Martin.
Pesawat nirawak RQ-170 Sentinel dikembangkan oleh divisi Advanced Development Programs (ADP) Lockheed Martin yang terkenal, dikenal luas sebagai Skunk Works, sebagai platform intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) dengan kemampuan siluman.
Sejak penerbangan perdananya pada akhir 2000-an hingga pengakuan resmi oleh Angkatan Udara AS pada 2009, pesawat ini menjadi salah satu program Pentagon yang paling tidak transparan.
Para analis memperkirakan sekitar 20 hingga 30 unit telah dibangun, tetapi jumlah produksi pastinya tetap dirahasiakan.
Baca juga: 10 Raksasa Industri Pertahanan Dunia Berdasarkan Pendapatan: Lockheed Martin Memimpin
Secara fisik, RQ-170 memiliki desain sayap terbang dengan bentang sayap diperkirakan sekitar 20 meter.
Bentuk silumannya dan penggunaan material penyerap radar memungkinkannya memasuki wilayah udara konflik dengan kemungkinan deteksi yang rendah.
Pesawat ini membawa sensor canggih yang mampu mengumpulkan citra elektro-optik dan inframerah, data radar apertur sintetis, serta intelijen sinyal.
Kemampuan terakhir ini sangat penting untuk memetakan pemancar elektronik dan menetapkan pola aktivitas di darat.
Kemampuan Unik Sentinel
Hal yang membuat Sentinel unik di antara UAV AS adalah kemampuannya pada pengumpulan data secara pasif.
Artinya, pesawat ini dapat melakukan pengintaian tanpa secara aktif memancarkan sinyal yang berpotensi mengungkapkan lokasinya.
Kemampuan tersebut sangat berharga dalam operasi melawan musuh dengan pertahanan udara canggih atau di lingkungan yang sensitif secara politik, di mana kehati-hatian sangat penting.
Para analis meyakini kontribusi utama RQ-170 dalam misi di Venezuela adalah menyajikan kondisi dan situasi secara real time.
Dengan beroperasi di ketinggian, drone tersebut hampir pasti memberikan pemantauan terhadap lokasi-lokasi penting, pergerakan pasukan, dan posisi pertahanan udara.
Dalam lingkungan yang kompleks, di mana pasukan sekutu dan kepemimpinan nasional beroperasi secara bersamaan, intelijen semacam itu dapat membentuk pengambilan keputusan serta mengurangi risiko terhadap personel.
Selain citra udara, drone tersebut kemungkinan juga berkontribusi dalam proses intelijen yang lebih luas.
Sensornya dapat memberikan data untuk penilaian kerusakan pertempuran terhadap target yang dihantam rudal jelajah atau mendukung penyisipan dan penarikan unit operasi khusus di wilayah perkotaan Caracas.
Keterlibatan RQ-170 dalam Operasi Absolute Resolve menambah informasi yang masih relatif terbatas tentang drone ini.
Angkatan Udara AS baru secara resmi mengakui keberadaan Sentinel pada 2009, dua tahun setelah pertama kali terlihat di Afghanistan dan dijuluki “Binatang Buas Kandahar”.
Pernah Digunakan dalam Misi-Misi Penting
Mengutip The War Zone, RQ-170 Sentinel digunakan untuk memantau berbagai aspek program nuklir Iran.
Sentinel pernah membuat gempar karena jatuh di Iran pada tahun 2011, yang dianggap sebagai kerugian intelijen besar bagi Amerika.
RQ-170 juga diduga berperan dalam serangan Operasi Midnight Hammer terhadap situs-situs nuklir Iran tahun lalu, dengan menyediakan pengawasan langsung dari udara serta intelijen untuk penilaian kerusakan pasca-serangan.
Pesawat pengintai Sentinel diketahui telah memantau kompleks pendiri Al Qaeda, Osama bin Laden, di Pakistan menjelang operasi yang menewaskannya pada 2011.
Peristiwa tersebut, bersama operasi di Iran, menjadi contoh utama kemampuan Sentinel dalam memantau target penting secara terus-menerus, bahkan di wilayah terlarang.
Persiapan dan pelaksanaan Operasi Absolute Resolve juga mengikuti pola serupa dengan misi penangkapan Osama bin Laden.
Pesawat nirawak RQ-170 berteknologi siluman ini juga pernah dikerahkan ke Korea Selatan, dari mana kemungkinan besar melakukan penerbangan sangat dekat dengan wilayah udara Korea Utara.
Pesawat ini juga dilaporkan pernah dikerahkan di wilayah lain di kawasan Pasifik.
Antara 2022 dan 2023, pesawat nirawak Sentinel diduga melakukan misi di kawasan Laut Hitam untuk mengumpulkan intelijen tentang pasukan Rusia di Semenanjung Krimea yang diduduki dan dijaga ketat.
Citra satelit yang tersedia melalui Apple Maps, yang menunjukkan sebuah RQ-170 di Pangkalan Udara Angkatan Laut Sigonella, Italia, memberikan kredibilitas tambahan terhadap laporan tersebut.
Sigonella telah lama menjadi pusat penerbangan intelijen, pengawasan, dan pengintaian di atas Laut Hitam.
Tidak diketahui secara pasti kapan citra tersebut diambil, tetapi diduga berasal dari periode yang relevan berdasarkan kondisi konstruksi yang terlihat di area lain pangkalan tersebut.
Kabar Terbaru Venezuela setelah Penangkapan Maduro
Mengutip CBS News, sejak penangkapan Maduro, Venezuela diperintah oleh Presiden sementara Delcy Rodríguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden Maduro dan kemudian dilantik oleh Majelis Nasional sebagai presiden.
Tanpa menggulingkan sepenuhnya sisa-sisa rezim Maduro, termasuk para pejabat yang telah didakwa dan dikenai sanksi oleh Amerika Serikat, pemerintahan Trump berupaya bekerja sama dengan mereka dengan memanfaatkan pembatasan ketat AS terhadap ekspor minyak Venezuela sebagai alat tekanan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada para senator pada Rabu (28/1/2029) bahwa pemerintahan Trump tidak berencana mengambil tindakan militer lebih lanjut di Venezuela.
Ia menyatakan, “Satu-satunya kehadiran militer yang akan Anda lihat di Venezuela adalah penjaga Marinir kami di sebuah kedutaan,” merujuk pada kemungkinan untuk membangun kembali kehadiran diplomatik Amerika Serikat di ibu kota Venezuela, Caracas.
Sementara itu, pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, yang partainya memenangkan pemilihan 2024, mengatakan kepada program “Face the Nation” bahwa meskipun belum ada jadwal yang jelas untuk pemilihan baru, ia meyakini transisi dari sisa-sisa rezim Maduro tidak dapat dihentikan.
Ia berpendapat bahwa setiap perubahan positif yang dilakukan oleh pemerintah sementara terjadi karena tekanan dari pemerintahan Trump, tetapi pada akhirnya mungkin tidak memiliki kekuatan hukum.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.