Sabtu, 30 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Zelenskyy: Ukraina Akan Buka 10 Pusat Ekspor Senjata di Eropa

Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan negaranya akan buka 10 pusat ekspor senjata di Eropa, mengharapkan kerja sama yang lebih luas.

Tayang:
Website Presiden Ukraina
PRESIDEN UKRAINA ZELENSKYY - Foto diunduh dari laman Presiden Ukraina, Selasa (13/1/2026), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat mendengarkan laporan Dinas Keamanan Ukraina pada 10 Januari 2026. - Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan negaranya akan buka 10 pusat ekspor senjata di Eropa, mengharapkan kerja sama yang lebih luas. 

Pada bulan Januari, 23 kapal armada bayangan yang menggunakan bendera palsu atau curang terlihat di Selat Inggris atau Laut Baltik, menurut Lloyd's List Intelligence. 

Banyak di antaranya terkait dengan ekspor minyak Rusia, sebagian besar melalui jalur laut ke China, India, dan Turki.

  • Ukraina Beri Sanksi ke Produsen Asing yang Diduga "Bantu" Rusia

Zelenskyy mengatakan ia memberlakukan sanksi terhadap beberapa produsen komponen asing untuk drone dan rudal Rusia yang digunakan melawan Ukraina.

“Memproduksi persenjataan ini tidak mungkin tanpa komponen asing yang penting, yang terus diperoleh Rusia dengan menghindari sanksi,” kata Zelenskyy di X, Minggu.

“Kami memberlakukan sanksi baru tepat terhadap perusahaan-perusahaan tersebut – pemasok komponen, serta produsen rudal dan drone. Saya telah menandatangani keputusan terkait," lanjutnya.

Menurut dua dekrit yang diterbitkan oleh kepresidenan Ukraina, target sanksi termasuk beberapa perusahaan Tiongkok serta perusahaan dari bekas Uni Soviet, Uni Emirat Arab, dan Panama.

Terlepas dari negosiasi untuk mengakhiri perang empat tahun tersebut, Rusia telah secara tajam meningkatkan skala dan jumlah serangan rudal dan drone terhadap Ukraina dalam beberapa bulan terakhir, memfokuskan serangannya pada sektor energi dan logistik.

Zelenskyy mengatakan di X bahwa dalam seminggu terakhir, Rusia telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone serang, 1.200 bom udara berpemandu, dan 116 rudal berbagai jenis ke kota-kota dan desa-desa di Ukraina.

Serangan terhadap pembangkit listrik dan gardu induk telah menyebabkan seluruh wilayah tanpa listrik dan pemanas, dengan pemadaman listrik di ibu kota Kyiv berlangsung hingga 20 jam, dikutip dari Al Arabiya.

Zelenskyy mengatakan dia juga telah menjatuhkan sanksi terhadap sektor keuangan Rusia dan badan-badan yang mendukung pasar kripto Rusia dan operasi penambangan.

  • Ukraina Berharap Menerima 250 Pesawat Tempur dari Mitranya

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa Ukraina mengharapkan untuk menerima 250 pesawat tempur dari para mitra. 

Ia mengatakan hal ini selama percakapan dengan mahasiswa Institut Penerbangan Kyiv.

"Saat ini, Ukraina memiliki kesepakatan untuk memasok 150 pesawat militer Gripen dan 100 pesawat Rafale ke Ukraina. Menurut kami, ini adalah pesawat terbaik di dunia," kata Zelenskyy, Minggu.

Ia juga mencatat bahwa di negara yang sedang berperang, penerbangan adalah prioritas.

"Saat ini kami lebih fokus pada penerbangan militer. Itu benar. Penerbangan sipil sangat penting. Itu juga benar. Kami akan mengembangkan penerbangan militer. Kami beralih ke universitas dan siap mendukung arah ini," tambahnya.

  • India Menolak Tawaran untuk Beli Minyak Rusia

Kilang-kilang minyak India tidak menerima tawaran dari para pedagang untuk membeli minyak Rusia pada bulan Maret dan April. 

Kemungkinan besar, negara tersebut ingin memfasilitasi kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat, yang sedang menekan New Delhi terkait minyak dari Rusia, menurut laporan Reuters, mengutip sumber-sumber di industri pengolahan dan perdagangan minyak.

Secara khusus, perusahaan-perusahaan India seperti Indian Oil (IOC.NS), Bharat Petroleum (BPCL.NS), dan Reliance Industries (RELI.NS) merasa khawatir.

Perusahaan-perusahaan penyulingan ini telah menjadwalkan beberapa pengiriman minyak Rusia pada bulan Maret. 

Namun, mereka akan menghindari pengiriman lebih lanjut dan, menurut sumber, akan menahan diri dari kesepakatan semacam itu untuk jangka waktu yang lebih lama.

Sebagian besar kilang minyak lainnya telah berhenti membeli minyak Rusia.

"Diversifikasi sumber energi kita sesuai dengan kondisi pasar objektif dan dinamika internasional yang berubah adalah dasar dari strategi kita," kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri kepada Reuters.

  • Ukraina Desak Perundingan dengan Rusia

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menegaskan bahwa penyelesaian isu-isu paling krusial dalam perundingan damai dengan Rusia hanya bisa dilakukan melalui pertemuan langsung para pemimpin kedua negara. 

Ia menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai satu-satunya tokoh yang memiliki pengaruh cukup kuat untuk mendorong tercapainya kesepakatan.

"Hanya Trump yang bisa menghentikan perang," kata Sybiha kepada Reuters di kantornya di Kyiv, dekat sungai Dnipro, dalam sebuah wawancara yang dilakukan pada hari Jumat (6/2/2026).

Ukraina, kata Sybiha, ingin mempercepat proses perdamaian dan memanfaatkan momentum negosiasi yang dimediasi AS sebelum dinamika politik lain, seperti pemilu sela Kongres AS, memengaruhi jalannya perundingan.

"Penilaian saya adalah kita memiliki momentum, itu benar," kata Sybiha, yang menjabat sejak 2024. 

"Kita perlu konsolidasi atau mobilisasi upaya perdamaian ini, dan kita siap untuk mempercepatnya."

Menurut Sybiha, dari rencana perdamaian 20 poin yang menjadi dasar negosiasi trilateral, hanya beberapa poin sensitif yang masih tersisa, terutama terkait wilayah dan keamanan.

Rusia tetap menuntut Ukraina menyerahkan sebagian wilayah timur Donetsk, tuntutan yang ditolak keras Kyiv. 

Ukraina juga bersikeras menginginkan kembali kendali atas pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia yang saat ini berada di bawah pendudukan Rusia

Meski belum ada terobosan dalam putaran pembicaraan terbaru di Abu Dhabi, kedua pihak berhasil melakukan pertukaran ratusan tawanan perang, sementara AS mengusulkan pembicaraan lanjutan dalam waktu dekat.

Hampir empat tahun sejak invasi Rusia pada Februari 2022, Moskow masih menduduki hampir seperlima wilayah Ukraina. Kyiv kini memprioritaskan jaminan keamanan dari Barat pascagencatan senjata, dengan Amerika Serikat dipandang sebagai elemen kunci. 

Sybiha menegaskan Ukraina tidak akan menerima kesepakatan apa pun yang dibuat tanpa persetujuannya, termasuk pengakuan atas kedaulatan Rusia di Krimea atau Donbas, yang menurutnya melanggar hukum internasional. 

“Ini bukan hanya soal Ukraina, tetapi tentang prinsip dan tatanan hukum global,” ujarnya, seperti dikutip CNA.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved