Konflik Rusia Vs Ukraina
Uni Eropa Perluas Sanksi Minyak Rusia, Pelabuhan Georgia dan Indonesia Terancam
Uni Eropa mengusulkan sanksi dagang kepada pelabuhan di Georgia dan Indonesia karena diduga menangani perdagangan minyak Rusia.
Ringkasan Berita:
- Uni Eropa mengusulkan proposal untuk menjatuhkan sanksi terhadap pelabuhan di Georgia dan Indonesia karena diduga terkait dengan perdagangan minyak Rusia.
- Proposal tersebut, jika disetujui, maka individu Uni Eropa dilarang berdagang dengan kedua pelabuhan tersebut.
- Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1448 ketika Ukraina meningkatkan upaya untuk memproduksi senjata.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1448 pada Selasa (10/2/2026).
Uni Eropa mengusulkan perluasan sanksi terhadap Rusia dengan menargetkan pelabuhan di negara ketiga yang menangani minyak Rusia.
Untuk pertama kalinya, pelabuhan di luar Rusia masuk dalam daftar sanksi yang diusulkan.
Dokumen proposal menyebut pelabuhan Kulevi di Georgia dan Karimun di Indonesia akan dimasukkan ke dalam daftar, menurut dokumen yang dipresentasikan pada Senin (9/2/2026).
Jika disetujui, perusahaan dan individu Uni Eropa dilarang melakukan transaksi dengan kedua pelabuhan tersebut.
Usulan tersebut merupakan bagian dari paket sanksi ke-20 Uni Eropa terhadap Rusia, lapor Reuters.
Pada 6 Februari, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan bahwa paket tersebut mencakup pembatasan sektoral dan peralihan dari batas harga G7 ke larangan penuh terhadap layanan maritim untuk minyak mentah Rusia.
"Paket sanksi baru ini mencakup sektor energi, jasa keuangan, dan perdagangan. Di bidang energi, kami memperkenalkan larangan penuh terhadap layanan maritim untuk minyak mentah Rusia," kata Ursula von der Leyen.
Paket kebijakan tersebut juga mencakup larangan baru terhadap impor logam di antaranya batangan nikel, bijih besi dan konsentratnya, tembaga mentah dan olahan, serta skrap aluminium. Larangan ini juga mencakup garam, amonia, kerikil, silikon, dan bulu.
Uni Eropa untuk pertama kalinya menerapkan alat penghindaran sanksi terhadap negara ketiga, yakni Kyrgyzstan, dengan melarang penjualan mesin pemotong logam serta peralatan komunikasi seperti modem dan router.
Baca juga: Sektor Energi Ukraina Diserang Rusia, Zelenskyy Jelaskan Kenapa Tak Membalas
Langkah ini diambil untuk menutup celah dukungan tidak langsung terhadap Rusia.
Selain itu, dua bank Kyrgyzstan diusulkan masuk daftar sanksi karena melayani transaksi kripto ke Rusia, sementara bank dari Laos dan Tajikistan berpotensi menyusul.
Secara keseluruhan, 30 individu dan 64 perusahaan dikenai sanksi, termasuk Bashneft dan sejumlah kilang minyak Rusia, meski Rosneft dan Lukoil tidak masuk dalam daftar tersebut, lapor Suspilne.
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina. Aksi tersebut menjadi puncak dari ketegangan panjang yang selama bertahun-tahun membayangi hubungan kedua negara, dipicu oleh pertarungan kepentingan politik, isu keamanan, serta rivalitas geopolitik di kawasan Eropa Timur.
Akar konflik ini berawal sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an, yang membuat Rusia dan Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan orientasi kebijakan yang kian berlawanan. Ukraina perlahan mendekat ke Barat melalui kerja sama dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat, baik di bidang politik, ekonomi, maupun pertahanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Komisi-Eropa-Ursula-von-der-Leyen-34T423T.jpg)