Minggu, 12 April 2026

Kekuatan Batik dan Sarung: Identitas Pengenal Sesama WNI di Luar Negeri

Batik dan sarung menjadi penanda kuat identitas WNI di luar negeri, bahkan dikenakan Megawati Soekarnoputri dalam berbagai agenda internasional.

Ringkasan Berita:
  • Batik dan sarung menjadi penanda visual kuat bagi WNI di luar negeri, memudahkan sesama orang Indonesia saling mengenali tanpa perlu berkenalan.
  • Pengalaman di Abu Dhabi, Madinah, dan Makkah menunjukkan busana tersebut memicu sapaan spontan dan rasa kedekatan antar-WNI.
  • Megawati Soekarnoputri juga konsisten mengenakan batik dalam agenda di UEA dan Arab Saudi, menegaskan identitas budaya Indonesia di kancah internasional.

 

TRIBUNNEWS.COM, TIMUR TENGAH -  Berada di luar negeri menghadirkan pengalaman sosial yang unik, terutama bagi mereka yang berasal dari Indonesia. 

Di tengah keragaman wajah dan budaya, ada satu penanda yang sering kali memudahkan sesama Warga Negara Indonesia (WNI) untuk saling tahu, tanpa perlu mengawalinya dengan perkenalan. 

Penanda itu adalah busana batik dan sarung. Pakaian bermotif khas yang diakui UNESCO sejak tahun 2009 sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia ini, menjadi identitas nyata bagi WNI ketika berada di luar negeri.

Sementara sarung yang identik dengan lingkungan kaum santri, yang notabene pakaian penutup bagian bawah untuk laki-laki beribadah, juga menjadi penanda 'orang Indonesia'.

Tanpa perlu percakapan atau perkenalan, batik dan sarung menjadi isyarat visual yang langsung terbaca.

Pengalaman itu terasa nyata ketika saya Danang Triatmojo selaku jurnalis Tribunnews.com berkesempatan mengunjungi Abu Dhabi - Uni Emirat Arab (UEA), Madinah dan Makkah - Arab Saudi, pada awal bulan Februari 2026.

Di antara lalu lalang orang dengan gaya berpakaian khas negara dan selera individu, busana batik dan sarung tampil menonjol serta berbeda. 

Baca juga: Tiba di Jeddah, Megawati Hendak Doakan Kemajuan RI dari Masjidil Haram Makkah

Pengenalan ini terjadi secara alami, hanya dari pengamatan singkat, tanpa perlu memastikan lewat dialog.

Sebagai contoh, saya pernah mengalaminya secara langsung saat menginap di sebuah hotel di Abu Dhabi. Ketika sarapan pagi saya mengenakan batik, kemudian seorang pelayan tiba-tiba menyapa menggunakan bahasa Indonesia. 

"Selamat pagi Pak," ucap pramusaji tersebut seraya membukakan pintu resto menuju sisi semi outdoor.

Tidak ada percakapan sebelumnya, tidak ada pertanyaan tentang asal negara. Sapaan itu muncul spontan, seolah sudah ada kesepahaman. Terlihat jelas bahwa batik yang saya kenakan menjadi dasar pengenalannya.

Hal serupa juga kerap terjadi di tempat-tempat publik lainnya. Seperti pusat perbelanjaan di Masjid Nabawi - Madinah maupun kawasan Masjidil Haram - Makkah.

Ketika saya mengenakan sarung, beberapa orang Indonesia meminta bantuan saya untuk mengabadikan momen dari ponselnya.

"Mas, boleh minta tolong fotoin?" tanya mereka tiba-tiba.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved