Setengah Abad Canting Kangkung, saat Pelestari Batik Lukis Solo Berkumpul untuk Mendunia
Sempat vakum, Canting Kangkung bangkit di usia 50 tahun. Para pencetus dan pewaris batik lukis Solo berkumpul menjaga warisan.
Sempat vakum, Canting Kangkung bangkit di usia 50 tahun. Para pencetus dan pewaris batik lukis Solo berkumpul menjaga warisan.
TRIBUNNEWS.COM – Keriput di wajah mereka tak mampu menyembunyikan nyala yang masih hidup di mata.
Di ruangan itu, para lelaki pembatik yang sebagian besar telah berusia lebih dari setengah abad duduk berdampingan, saling menyapa, saling mengingat, lalu sesekali tertawa lepas seperti kawan lama yang dipertemukan kembali oleh takdir.
Rambut yang memutih, langkah yang tak lagi secepat dulu, dan tangan yang mulai menua tak lantas membuat semangat mereka surut.
Justru dari raut wajah yang dipahat waktu itu, tersimpan gairah yang masih menggelora seolah usia mereka berhenti di kepala dua, ketika idealisme, keberanian berkarya, dan rasa ingin menaklukkan dunia masih begitu liar menyala.
Sebagian dari mereka datang bukan hanya membawa tubuh yang telah renta, tetapi juga jejak panjang perjalanan batik lukis Solo yang pernah hidup, berjaya, lalu perlahan tenggelam dalam sunyi zaman.
Ada yang datang sebagai pencetus, ada yang hadir sebagai pewaris, ada pula yang sekadar ingin menyaksikan bahwa api yang dulu mereka nyalakan ternyata belum sepenuhnya padam.
Hari itu, pertemuan mereka bukan sekadar ajang temu kangen.
Ia menjelma seperti perayaan batin, sebuah penegasan bahwa Canting Kangkung, komunitas pelestari batik lukis Solo yang sempat vakum, masih punya denyut yang kuat untuk bangkit kembali.
Tepat di usia 50 tahun, komunitas ini menandai momentum kebangkitannya dengan mengumpulkan para tokoh, pelaku, hingga generasi penerus dalam satu ruang yang sarat kenangan bersama total 30an insan yang bertahan sebagai keluarga besar.
Pertemuan itu juga ditandai dengan pemberian penghargaan kepada lima sosok penting yang selama puluhan tahun menjaga corak dan teknik batik lukis khas Solo tetap hidup.
Baca juga: Kekuatan Batik dan Sarung: Identitas Pengenal Sesama WNI di Luar Negeri
Mereka adalah Margono, pencetus batik semprotan yang masih berkarya sejak 1988; Gombor Warono, pencetus batik hiasan dinding sejak 1990; Cuk Sugiarto, pencetus batik smok sejak 1985; Wisryanto, pencetus batik abstrak sejak 1975; dan Sriyanto, pencetus batik toletan sejak 1984.
Di hadapan nama-nama itu, waktu terasa seperti melipat dirinya sendiri.
Sebab yang sedang duduk berkumpul di sana bukan sekadar para perajin sepuh, melainkan orang-orang yang pernah menjadikan batik sebagai cara hidup, jalan berkesenian, sekaligus medan perjuangan untuk menjaga kebudayaan agar tak larut ditelan perubahan.
Dan dari pertemuan yang hangat itu, satu hal terasa begitu jelas: mereka memang tak lagi muda, tetapi semangat untuk menjaga batik lukis Solo tetap hidup masih menyala seterang dulu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pencetus-dan-pewaris-Canting-Kakung-yang-mendapat-penghargaan.jpg)