Iran Vs Amerika Memanas
Iran Kembali Negosiasikan Isu Nuklir dengan IAEA, Pengayaan Uranium Disorot
Pertemuan tersebut menitikberatkan pada diskusi teknis yang mendalam mengenai kerjasama Iran dengan IAEA.
Ringkasan Berita:
- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, di Jenewa menjelang putaran kedua negosiasi tidak langsung Iran–AS soal program nuklir.
- Pertemuan membahas kerja sama teknis, pemantauan, dan verifikasi program nuklir sipil Iran
- IAEA mendesak klarifikasi atas sekitar 440 kg uranium yang diperkaya tinggi dalam diskusi reknis tersebut
- Dari pihak AS, Menlu Marco Rubio melihat peluang diplomasi namun tetap skeptis
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melangsungkan pertemuan dengan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, di Jenewa pada Senin (16/2/2026).
Pertemuan ini dihelat sehari menjelang putaran kedua perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir Teheran.
Diskusi antara IAEA dan Iran ini sendiri juga terjadi di tengah tensi yang memuncak pascaserangan udara gabungan AS-Israel pada Juni 2025 yang menyasar sejumlah fasilitas nuklir Iran.
Dikutip dari Reuters, Pertemuan tersebut pun menitikberatkan pada diskusi teknis yang mendalam mengenai kerjasama Iran dengan IAEA.
Kerjasama tersebut mencakup aspek pemantauan serta verifikasi program nuklir sipil Iran, sekaligus memaparkan sudut pandang teknis Teheran dalam negosiasi dengan AS.
Araqchi yang didampingi tim pakar nuklir menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan langkah krusial setelah Iran sempat menangguhkan seluruh kerja sama dengan IAEA pascaserangan Juni lalu.
Meski kedua pihak pernah bersua singkat di sela-sela Sidang Umum PBB pada September 2025, pertemuan kali ini dinilai jauh lebih substantif.
Iran dan AS sendiri kembali menjajaki meja negosiasi bulan ini melalui mediasi Oman.
Upaya ini merupakan lanjutan dari negosiasi yang sempat terhenti lama akibat konflik 12 hari pada Juni 2025.
Konflik tersebut melibatkan serangan terhadap situs-situs vital seperti Natanz, Fordow, dan Isfahan.
AS bersama Israel meyakini bahwa program nuklir Iran bertujuan untuk mengembangkan senjata pemusnah massal.
Baca juga: Perundingan Nuklir Putaran Kedua Iran-AS Segera Dimulai, Diplomasi di Bawah Tekanan Militer
Adapun tuduhan ini sendiri senantiasa ditampik oleh Teheran yang menegaskan bahwa program tersebut murni untuk kepentingan damai.
IAEA juga telah berulang kali mendesak Iran memberikan klarifikasi mengenai status stok uranium yang diperkaya tinggi sebanyak kurang lebih 440 kg pascaserangan tersebut.
Lembaga nuklir internasional tersebut juga meminta izin untuk melakukan inspeksi menyeluruh pada fasilitas-fasilitas yang terdampak.