Iran Vs Amerika Memanas
Pejabat AS: Serangan Militer ke Iran Paling Cepat Dilakukan Hari Sabtu Lusa
Serangan militer Amerika Serikat ke Iran sepertinya tinggal menghitung hari. Media AS memprediksi serangan terjadi Sabtu lusa.
Donald Trump terus membangun konsentrasi kekuatan militer besar di kawasan tersebut guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Dengan pengerahan ini, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memiliki dua CSG di kawasan. USS Abraham Lincoln telah lebih dulu berada di Teluk Persia bersama sembilan kapal perang lain, termasuk lima kapal perusak kelas Arleigh Burke.
Selain itu, sejumlah kapal selam AS yang tidak dirinci jumlahnya juga beroperasi di kawasan, bersamaan dengan hampir 30.000 personel militer yang tersebar di 18 pangkalan AS di Timur Tengah.
Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, sebelumnya menyatakan Ford memiliki kapabilitas luar biasa.
“Dari perspektif kemampuan, Ford adalah opsi yang sangat berharga untuk setiap langkah militer yang ingin dilakukan presiden,” ujarnya dalam simposium tahunan Surface Navy Association bulan lalu.
Namun, pengerahan ini tidak lepas dari kontroversi. Sejumlah kalangan mempertanyakan apakah kapal dan sekitar 4.500 awaknya benar-benar siap menghadapi kemungkinan operasi intensif di sekitar Iran.
Ini merupakan perpanjangan penugasan kedua bagi USS Ford, yang sejak Juni tahun lalu telah meninggalkan pangkalan asalnya di Norfolk untuk berlayar ke Mediterania.
Pada Oktober, kapal ini bahkan sempat dikirim ke Karibia ketika Washington meningkatkan tekanan terhadap Venezuela. USS Ford ikut ambil bagian dalam Operasi Absolute Resolve pada awal Januari, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Awalnya, penugasan pertama Ford dijadwalkan berakhir akhir Desember. Namun, pengerahan ulang ke Karibia membuat jadwal molor.
Awak kapal sempat berharap bisa kembali pada awal Maret, tetapi kini perpanjangan kedua membuat kepulangan paling cepat baru mungkin terjadi pada awal April—atau bahkan lebih lama jika operasi terhadap Iran berlarut-larut.
Dalam konteks ini, analis pertahanan Sumit Ahlawat menilai tekanan operasional yang berkepanjangan dapat memengaruhi kesiapan tempur.
“Secara strategis, pengerahan USS Ford meningkatkan daya gentar Washington terhadap Iran. Namun secara operasional, perpanjangan berulang tanpa jeda perawatan yang memadai berisiko menurunkan kesiapan tempur,” ujar Sumit Ahlawat dikutip dari Eurasian.
Ia menambahkan bahwa kapal induk modern seperti Ford sangat bergantung pada sistem teknologi canggih yang memerlukan pemeliharaan berkala di galangan.
“Jika jadwal dry dock terus tertunda, biaya perbaikan bisa melonjak dan risiko gangguan sistem saat operasi tempur nyata akan meningkat,” kata Ahlawat.
Pengalaman masa lalu menunjukkan risiko tersebut nyata. Kelompok tempur kapal induk USS Harry S. Truman mengalami sejumlah insiden saat bertugas di Timur Tengah tahun lalu, termasuk insiden salah tembak, tabrakan dengan kapal niaga, serta kehilangan dua jet tempur F/A-18.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/jet-tempur-Amerika-F-35-Lightning-II-dan-F-16.jpg)