Konflik Rusia Vs Ukraina
Zelenskyy: 10.000 Tentara Korea Utara Ada di Rusia, Mereka Belajar tentang Perang
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan saat ini ada 10.000 Tentara Korea Utara di Rusia dan mereka belajar tentang perang.
Hingga pertengahan Januari 2025, sekitar 1.000 tentara Korea Utara dilaporkan tewas di Kursk.
Pada 28 April 2025, Korea Utara secara resmi mengakui keterlibatan militernya dalam perang Rusia melawan Ukraina.
Pada Agustus 2025, menurut Vadym Skibitsky, terdapat sekitar 11.000 personel militer Korea Utara berada di Rusia, lapor Suspilne.
Perang Rusia–Ukraina
Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ketika Moskow melancarkan invasi militer besar-besaran ke sejumlah kota strategis di Ukraina. Serangan artileri dan konvoi tank Rusia menandai dimulainya babak baru konflik bersenjata di Eropa Timur yang segera menyita perhatian dunia.
Namun, ledakan perang tersebut bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi ketegangan panjang yang berakar pada rivalitas geopolitik, persoalan keamanan, serta perebutan pengaruh di kawasan yang sejak lama menjadi titik temu kepentingan Rusia dan Barat.
Akar persoalan dapat ditelusuri hingga runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Sejak merdeka, Ukraina dan Rusia perlahan menempuh arah politik yang berbeda. Kyiv kian mendekat ke Barat melalui penguatan hubungan dengan Uni Eropa dan kemitraan strategis dengan Amerika Serikat—langkah yang dipandang Moskow sebagai ancaman terhadap kepentingan dan lingkup pengaruh tradisionalnya.
Isu ekspansi NATO menjadi salah satu sumber ketegangan paling sensitif. Rusia melihat potensi perluasan aliansi militer Barat hingga mendekati perbatasannya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.
Puncak ketegangan pertama terjadi pada 2014 saat gelombang demonstrasi besar, yang dikenal sebagai Revolusi Maidan, menggulingkan pemerintahan Ukraina yang pro-Rusia. Tak lama kemudian, Rusia menganeksasi Krimea, disusul pecahnya konflik bersenjata di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow.
Berbagai upaya diplomasi internasional sempat dilakukan untuk meredakan situasi, namun tidak pernah sepenuhnya mengakhiri konflik. Hubungan kedua negara terus memburuk hingga pada Februari 2022 Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer skala penuh. Moskow menyebut langkah itu sebagai upaya melindungi warga di Donbas serta mencegah ekspansi NATO.
Invasi tersebut memicu kecaman luas dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Sanksi ekonomi besar-besaran dijatuhkan kepada Rusia, sementara dukungan militer dan bantuan finansial bagi Ukraina terus mengalir.
Hingga kini, perang masih berlangsung tanpa tanda-tanda penyelesaian. Di tengah pertempuran yang berlarut, Amerika Serikat bersama sejumlah mitra internasional terus mendorong jalur diplomasi demi mencari titik temu dan mengakhiri salah satu konflik paling menentukan di Eropa pada abad ke-21, dirangkum dari Al Jazeera.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)