Selasa, 12 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Pertimbangkan Serangan Militer Terbatas ke Iran, Siapa yang Beri Masukan?

Donald Trump mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran. Pemerintahannya masih menimbang opsi militer dan diplomasi.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Donald Trump mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran.
  • Pemerintahannya masih menimbang opsi militer dan diplomasi.
  • Negosiasi nuklir kedua negara belum menghasilkan kesepakatan final.


TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran, seiring peningkatan kehadiran militer AS di kawasan tersebut.

“Saya kira saya bisa mengatakan saya sedang mempertimbangkannya,” kata Trump ketika seorang reporter bertanya kepadanya pada Jumat (20/2/2026) apakah ia mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran.

Sebelumnya pada Kamis, CBS News melaporkan bahwa Trump belum membuat keputusan akhir mengenai kemungkinan serangan tersebut.

Pekan ini, Trump mengatakan Iran hanya memiliki waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya.

Ia memperingatkan akan ada konsekuensi serius jika kesepakatan itu tidak tercapai.

“Sekaranglah saatnya bagi Iran untuk bergabung dengan kita di jalan yang akan melengkapi apa yang sedang kita lakukan,” kata Trump pada Kamis dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian yang juga membahas keamanan di Gaza.

“Jika mereka bergabung dengan kita, itu akan bagus. Jika mereka tidak bergabung, itu juga akan bagus. Namun, jalannya akan sangat berbeda,” ujarnya.

“Mereka tidak dapat terus mengancam stabilitas seluruh kawasan dan harus membuat kesepakatan. Jika itu tidak terjadi, hal-hal buruk akan terjadi,” tambah Trump.

AMERIKA VS IRAN - Tangkap layar YouTube The White House memperlihatkan Presiden AS Donald Trump melakukan konferensi singkat di Air Force One sebelum kembali ke AS dari pertemuan WEF di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
AMERIKA VS IRAN - Tangkap layar YouTube The White House memperlihatkan Presiden AS Donald Trump melakukan konferensi singkat di Air Force One sebelum kembali ke AS dari pertemuan WEF di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). (Tangkap layar YouTube The White House)

Baca juga: Peta Peningkatan Kekuatan Militer AS di Timur Tengah, Iran Bentengi Situs Militernya

Siapa yang Memberi Masukan kepada Trump?

Di dalam pemerintahan Trump terdapat berbagai faksi yang memberikan masukan terkait opsi serangan terhadap Iran.

Mengutip CBS News, seorang sekutu Trump yang enggan disebutkan namanya menyebut pertimbangan internal bukan berupa perdebatan ideologis, melainkan rangkaian pembaruan informasi kepada presiden.

Trump merespons setiap pengarahan dan perkembangan situasi, sementara arah keputusannya masih belum pasti.

Sekutu tersebut menyebut menantu presiden, Jared Kushner, sebagai figur kunci dalam membantu menyusun kerangka kesepakatan diplomatik potensial.

Ia juga menyebut pejabat tinggi lain, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, sebagai bagian dari lingkaran penasihat jika serangan militer terjadi dalam beberapa hari atau minggu mendatang.

Para pejabat keamanan nasional mengatakan militer dapat siap menyerang Iran paling cepat Sabtu (21/2/2026).

Namun, jangka waktu tindakan kemungkinan akan melampaui akhir pekan ini.

Trump belum membuat keputusan akhir, kata para pejabat tersebut.

Secara terbuka, Rubio menekankan fokus pada jalur diplomatik. Ia mengatakan beberapa hari lalu bahwa upaya diplomasi juga menjadi prioritas presiden.

“Saat ini kita membicarakan negosiasi. Kita fokus pada negosiasi,” katanya di Slovakia pada 15 Februari.

“Presiden telah memperjelas hal itu. Jika berubah, akan jelas bagi semua orang.”

Negosiasi Nuklir Iran–AS

Amerika Serikat dan Iran menyelesaikan putaran negosiasi pada Selasa (17/2/2026) di Jenewa, Swiss.

Kedua pihak menyatakan telah ada kemajuan, meskipun masih banyak detail yang perlu dibahas, menurut seorang pejabat AS.

Iran diperkirakan akan menyampaikan proposal terperinci dalam beberapa minggu ke depan untuk menutup celah yang tersisa.

Belum ada tanggal untuk perundingan lanjutan.

Pada Juni 2025, AS bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran selama perang 12 hari.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar pada program nuklir Iran, menurut intelijen.

Dalam beberapa pekan terakhir, terdeteksi aktivitas di sekitar lokasi nuklir Iran.

Citra satelit akhir Januari menunjukkan pembangunan atap di atas dua bangunan yang rusak di fasilitas nuklir Isfahan dan Natanz.

Itu menjadi aktivitas besar pertama yang terdeteksi di salah satu lokasi terdampak sejak Perang 12 Hari tersebut.

Apa yang Diinginkan Amerika dan Apa yang Diinginkan Iran?

Mengutip Daily Sun, Amerika Serikat menuntut tiga hal dari Iran, yaitu:

  • tidak ada pengayaan uranium di Iran,
  • pembatasan program rudal balistik Iran,
  • penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi regional.

Iran telah lama menyatakan ketiga tuntutan tersebut melanggar kedaulatan negara dan tidak dapat diterima.

Namun, dua pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa para pemimpin ulama memandang program rudal balistik, bukan pengayaan uranium, sebagai hambatan utama.

Seorang pejabat Iran menyatakan tidak seharusnya ada prasyarat untuk memulai pembicaraan.

Iran juga menyatakan siap menunjukkan fleksibilitas dalam pengayaan uranium yang menurut mereka, bertujuan untuk kepentingan damai, bukan militer.

Iran berharap tercapai kesepakatan yang dapat membuka jalan bagi pencabutan sanksi Barat atas program nuklirnya yang telah merusak perekonomian negara tersebut.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved