Kamis, 23 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Dampak AS Blokade Selat Hormuz, Pengamat Peringatkan Potensi Bahaya bagi Indonesia

Blokade AS bikin Iran enggan berunding, pengamat khawatir dampaknya ke ekonomi global dan Indonesia.

Editor: Glery Lazuardi

Ringkasan Berita:
  • Ketegangan AS-Iran dinilai menghambat diplomasi. 
  • Dosen HI Binus Tia Mariatul Kibtiah khawatir blokade AS membuat Iran enggan berunding, memicu inflasi di Asia Tenggara termasuk Indonesia
  • Ia menyoroti risiko BBM naik dan berharap Pakistan bisa jadi mediator agar Iran kembali ke meja perundingan

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berpotensi menghambat proses diplomasi yang tengah diupayakan kedua negara.

Dosen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, mengaku khawatir blokade yang dilakukan AS justru membuat Iran enggan kembali ke meja perundingan.

Menurutnya, jika negosiasi lanjutan tidak terjadi, dampaknya bisa meluas ke ekonomi global, termasuk Indonesia.

Ia menjelaskan, Iran sebelumnya sempat menunjukkan kesediaan untuk berunding, namun kemudian menarik diri usai adanya serangan terhadap kapal kargo Iran.

Akibat insiden tersebut, kepercayaan Iran terhadap AS dinilai menurun. Situasi semakin rumit dengan adanya blokade terhadap pelabuhan Iran yang memperburuk hubungan kedua negara.

"Ketika terjadi blokade oleh pihak Amerika Serikat, akhirnya ini menimbulkan suatu ketidakpercayaan Iran, dan Iran ragu kalau kembali ke perundingan tidak menghasilkan deal (kesepakatan)," kata Tia dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Kamis (23/4/2026).

Tia menambahkan, ketika Iran menolak kembali berunding, AS merespons dengan tekanan psikologis berupa perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu. Kebijakan ini dinilai justru berpotensi memperparah ketidakpastian global.

Menurutnya, dampak dari kondisi tersebut akan sangat terasa di kawasan Asia, terutama karena ketergantungan terhadap jalur energi di Selat Hormuz.

"Karena efeknya terutama ke Asia Tenggara sangat signifikan. Kalau ke Uni Eropa misalnya hanya sekitar 20 persen, ke Asia itu sekitar 80 persen efek daripada Selat Hormuz ini, terutama ke Indonesia, khawatirnya memang akan terjadi inflasi," ujarnya.

Ia juga menyoroti langkah pemerintah Indonesia yang saat ini baru sebatas menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Namun, Tia mengingatkan potensi risiko ke depan jika ketidakpastian terus berlanjut.

Di sisi lain, ia berharap adanya peran Pakistan sebagai mediator dapat meredakan ketegangan dan mendorong kedua negara kembali ke jalur diplomasi.

"Kabarnya Islamabad mencoba approach (pendekatan) terhadap AS, kemudian melakukan pembicaraan kedua belah pihak supaya AS tidak melakukan apa pun, tidak melakukan tindakan provokatif untuk menyerang kargo-kargonya Iran, kemudian mencoba untuk tidak intervensi terhadap pelabuhan Iran," ujarnya.

Tia menilai, jika AS menghentikan langkah-langkah provokatif, peluang Iran untuk kembali ke meja perundingan akan semakin terbuka. Hal ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas global sekaligus mencegah dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk potensi inflasi di Indonesia.

Baca juga: Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal

Blokade Selat Hormuz Tak Dicabut

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mencabut blokade di Selat Hormuz.

Dilansir dari laman Euronews pada Kamis (23/4), kebijakan tersebut akan tetap diberlakukan hingga Iran menyetujui kesepakatan damai. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved