Konflik Palestina Vs Israel
Israel Ultimatum Hamas: Lucuti Senjata atau Gaza Akan Diduduki Sepenuhnya
Israel ultimatum Hamas: lucuti senjata atau Gaza diduduki penuh. Negosiasi buntu, sementara warga masih bertahan di pengungsian dalam situasi mencekam
Ringkasan Berita:
- Israel mengultimatum Hamas untuk melucuti senjata atau menghadapi pendudukan penuh Gaza.
- Hamas menolak dan menyebut ancaman itu tidak berdasar, membuat negosiasi buntu dan risiko operasi militer meningkat. Di lapangan, situasi Gaza tetap mencekam.
- Warga masih hidup di pengungsian, kehilangan keluarga, kesulitan ekonomi, serta kekurangan bantuan meski gencatan senjata telah berlaku.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich kembali mengeluarkan pernyataan keras terkait masa depan Jalur Gaza.
Dalam wawancara dengan penyiar publik Israel, Smotrich menegaskan bahwa tentara Israel akan menduduki seluruh wilayah Gaza apabila Hamas menolak melucuti senjata.
“Kami memperkirakan bahwa dalam beberapa hari mendatang, Hamas akan diberi ultimatum untuk melucuti senjata dan sepenuhnya melakukan demiliterisasi Gaza,” kata Smotrich, sebagaimana dikutip dari Al Arabiya.
“Jika Hamas tidak mematuhinya, IDF (tentara Israel) akan memiliki legitimasi internasional dan dukungan Amerika untuk melakukannya sendiri, dan IDF sudah mempersiapkan hal ini dan sedang membuat rencana,” kata menteri tersebut, yang merupakan anggota kabinet keamanan Israel yang bertugas menyetujui operasi militer skala besar.
Smotrich menegaskan bahwa demiliterisasi Hamas menjadi syarat utama untuk menciptakan stabilitas keamanan jangka panjang di wilayah tersebut.
Pemerintah Israel menilai selama Hamas masih mempertahankan kekuatan bersenjata, Jalur Gaza akan tetap menjadi sumber ancaman keamanan bagi wilayahnya.
Karena itu, pelucutan senjata atau demiliterisasi Hamas dianggap sebagai langkah kunci untuk mencegah terjadinya konflik berulang di masa mendatang.
Pernyataan tersebut berkaitan dengan kelanjutan proses gencatan senjata yang saat ini tengah berlangsung.
Dalam fase kedua kesepakatan yang didukung Amerika Serikat, salah satu poin utama yang disepakati adalah penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Gaza yang disertai dengan upaya demiliterisasi Hamas sebagai bagian dari langkah menuju stabilitas jangka panjang di kawasan.
Sebagai gantinya pasukan Israel mundur ke posisi di belakang “Garis Kuning”, tetapi masih mempertahankan kendali atas lebih dari separuh wilayah Gaza.
Hamas Tolak Ultimatum Israel
Kelompok Hamas belum memberikan tanggapan resmi terkait ultimatum yang disebut-sebut akan dilayangkan Israel.
Namun, dalam beberapa pernyataan terakhir, Hamas secara tegas menolak seruan pejabat pemerintah Israel yang meminta kelompok tersebut melucuti senjata dalam waktu 60 hari.
Pejabat senior Hamas, Mahmoud Mardawi, menyatakan dirinya tidak mengetahui adanya tuntutan resmi tersebut.
Baca juga: Trump Evakuasi Staf Kedutaan dari Lebanon, Pertanda Serangan AS ke Iran Semakin Dekat?
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia menyebut pernyataan yang disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui media sebagai ancaman tanpa dasar.
“Pernyataan yang dibuat Perdana Menteri Israel dan melalui media hanyalah ancaman tanpa dasar dalam negosiasi yang sedang berlangsung,” ujar Mardawi.