ICC Mulai Sidang Rodrigo Duterte di Den Haag, Bahas 3 Dakwaan Kejahatan Kemanusiaan
ICC memulai sidang praperadilan Rodrigo Duterte di Den Haag atas tiga dakwaan kejahatan kemanusiaan terkait perang melawan narkoba.
Pengacara Duterte, Nicholas Kaufman, menegaskan kliennya membantah seluruh tuduhan tersebut.
Ia mengatakan jaksa “memilih-milih” pernyataan Duterte dan menilai retorika keras mantan presiden itu tidak dimaksudkan untuk mendorong kekerasan.
Kasus ini menandai perubahan besar bagi Duterte yang sebelumnya sering mengkritik ICC dan bahkan menarik Filipina dari pengadilan tersebut pada 2019.
Meski demikian, ICC menyatakan tetap memiliki yurisdiksi atas dugaan kejahatan yang terjadi di Filipina antara 2011 hingga 2019.
Duterte ditangkap di Manila pada Maret lalu sebelum diterbangkan ke Belanda dan kini ditahan di unit penahanan ICC di Penjara Scheveningen.
Sementara itu, keluarga korban dan organisasi hak asasi manusia menyambut sidang ini sebagai langkah penting menuju keadilan.
“Saya merasa gugup, tetapi ini adalah saat yang menentukan. Kami berharap para hakim akan mendengar seruan para korban,” kata Llore Pasco, ibu dari dua korban yang tewas pada 2017, kepada Al Jazeera.
Namun sejumlah pendukung Duterte mengkritik langkah pemerintah Presiden Ferdinand Marcos Jr. yang menyerahkan mantan pemimpin tersebut kepada ICC.
Baca juga: Kuasa Hukum Rodrigo Duterte Minta Keringanan ICC, Kondisi Kognitifnya Disebut Sudah Menurun Drastis
Di Filipina, puluhan keluarga korban dan aktivis juga menggelar aksi untuk mengikuti jalannya sidang dan menuntut pertanggungjawaban atas kekerasan yang terjadi selama kampanye anti-narkoba.
Kasus ini menjadi sorotan internasional karena Duterte merupakan mantan kepala negara Asia pertama yang menghadapi proses hukum di ICC.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)