Sabtu, 18 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ultimatum Terakhir Trump ke Iran, Singgung Soal Kesabaran yang Hampir Habis

Presiden AS, Donald Trump memberikan ultimatum terakhir kepada Iran dalam Pidato Kenegaraan, Selasa (24/2/2026).

Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Bobby Wiratama

Ringkasan Berita:
  • Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dalam pidato kenegaraannya di Ruang Sidang DPR memberikan ultimatum kepada Iran.
  • Ia menegaskan bahwa AS berada di persimpangan jalan antara diplomasi bersejarah atau konfrontasi militer total.
  • Meski Trump menekankan peluang diplomasi dalam pidatonya, laporan dari Axios mengungkapkan adanya ketegangan internal di dalam pemerintahan.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan pidato kenegaraannya di Ruang Sidang DPR, Gedung Capitol, Washington, Selasa (24/2/2026).

Dalam pidatonya, Trump menyinggung soal hubungan AS dengan Iran yang semakin memanas.

Trump menyampaikan pesan yang sangat keras dan eksplisit terkait krisis dengan Iran.

Ia menegaskan bahwa AS berada di persimpangan jalan antara diplomasi bersejarah atau konfrontasi militer total.

Mengutip laporan Axios, Trump, dengan retorika khasnya, menyatakan bahwa ia tidak menginginkan perang.

Dirinya lebih memilih untuk menjadi "pembawa perdamaian" yang besar.

Namun, ia juga memberikan peringatan bahwa kesabarannya hampir habis.

Ia mengklaim telah menyiapkan armada militer yang belum pernah terlihat sebelumnya di wilayah Teluk sebagai bentuk kesiapan jika jalur diplomasi benar-benar tertutup.

"Saya menawarkan jalan keluar yang terhormat bagi Iran untuk kembali ke komunitas internasional."

"Namun, jika mereka memilih jalan pembangkangan, kami siap memberikan respons yang tidak akan pernah mereka lupakan," tegas Trump dalam pidatonya.

Meski Trump menekankan peluang diplomasi dalam pidatonya, laporan dari Axios mengungkapkan adanya ketegangan internal di dalam pemerintahan.

Baca juga: Pasukan IRGC Asah Kekuatan Tempur, Gelar Latihan Besar Saat Negosiasi Nuklir Iran -AS Memanas

Para penasihat keamanan nasional dikabarkan terbelah, antara kelompok yang mendesak serangan militer terbatas untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

Dan kelompok yang masih percaya bahwa tekanan ekonomi akan memaksa Iran bertekuk lutut.

Di sisi lain, intelijen AS melaporkan bahwa Iran justru semakin berani.

Teheran dilaporkan terus mempercepat pengayaan uraniumnya sebagai bentuk balasan atas kehadiran armada tempur AS.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved