Iran Vs Amerika Memanas
Ultimatum Terakhir Trump ke Iran, Singgung Soal Kesabaran yang Hampir Habis
Presiden AS, Donald Trump memberikan ultimatum terakhir kepada Iran dalam Pidato Kenegaraan, Selasa (24/2/2026).
Hal ini menciptakan situasi "adu nyali" yang sangat berbahaya, di mana satu kesalahan kalkulasi kecil dapat memicu perang besar di Timur Tengah.
Kesiapan Iran dalam Kesepakatan Nuklir
Pemerintah Iran menyatakan kesiapannya untuk segera merampungkan kesepakatan nuklir yang "cepat dan adil".
Namun di saat yang sama mengeluarkan peringatan keras bagi AS untuk tidak mencoba melakukan eskalasi militer yang berisiko memicu perang besar.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap laporan mengenai rasa frustrasi Trump dan pengerahan armada tempur besar-besaran Washington ke dekat perairan Iran.
Teheran menegaskan bahwa bola kini berada di tangan AS untuk memilih jalur diplomasi atau konfrontasi.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik, Majid Takht-Ravanchi menyatakan bahwa negaranya tidak pernah meninggalkan meja perundingan.
Baca juga: Iran Siapkan Senjata Baru, Borong Rudal Supersonik CM-302 Buatan China Demi Imbangi Kekuatan AS
Ravanchi mengklaim telah menyiapkan draf final yang dapat ditandatangani dalam waktu singkat, asalkan Washington bersedia mencabut sanksi ekonomi yang dianggap ilegal dan memberikan jaminan keamanan kedaulatan.
"Iran siap untuk kesepakatan nuklir yang cepat. Kami memiliki kemauan politik yang kuat untuk menyelesaikan masalah ini demi stabilitas kawasan, namun kami tidak akan menerima kesepakatan yang mengorbankan martabat nasional," tegas Ravanchi, mengutip Wana News.
Di balik tawaran damai tersebut, Iran tetap menunjukkan taringnya.
Teheran memperingatkan bahwa pengerahan aset militer AS ke wilayah Teluk bukan hanya ancaman bagi Iran, tetapi juga ancaman bagi keamanan energi global.
Otoritas militer Iran menegaskan bahwa setiap upaya untuk melakukan serangan terbatas maupun penuh akan dihadapi dengan respons militer yang setimpal.
Para pejabat tinggi militer Iran menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah berada dalam status siaga tertinggi.
Mereka juga mengingatkan AS bahwa fasilitas militer dan aset strategis mereka di Timur Tengah berada dalam jangkauan rudal balistik Iran.
(Tribunnews.com/Whiesa)