Trump Frustrasi, Tetap Tak Terima jika Iran Memiliki Senjata Nuklir
Presiden AS belum putuskan opsi militer usai putaran ketiga negosiasi; risiko konflik regional kian mencuat.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump menyatakan frustrasi atas sikap Iran dalam putaran ketiga pembicaraan nuklir di Jenewa dan belum memutuskan apakah akan melakukan serangan militer.
- Namun menegaskan AS tidak akan menerima Iran memiliki senjata nuklir.
- Iran membantah mengejar senjata nuklir; intelijen AS disebut tidak menemukan bukti Teheran membangun senjata tersebut, meski AS dan Israel tetap skeptis terhadap komitmen Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan frustrasi atas sikap Iran dalam putaran ketiga pembicaraan nuklir yang berlangsung di Jenewa.
Sehari setelah perundingan berakhir, Trump mengaku belum mengambil keputusan final tentang ancaman serangan militer terhadap Teheran.
“Kami belum membuat keputusan akhir,” ujar Trump kepada wartawan saat ditanya mengenai kemungkinan penggunaan kekuatan militer, dikutip Al Mayadeen, Sabtu (28/2/2026).
Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima jika Iran memiliki senjata nuklir.
Trump menilai Iran tidak menunjukkan itikad sesuai dengan harapan AS selama proses negosiasi.
“Kami tidak benar-benar senang dengan cara mereka bernegosiasi.
Mereka tidak dapat memiliki senjata nuklir, dan kami tidak senang dengan cara mereka bernegosiasi,” lanjutnya.
Meski demikian, Iran berulang kali menegaskan tidak pernah mengejar senjata nuklir.
Penilaian intelijen AS sendiri disebut tidak menemukan bukti bahwa Teheran telah memutuskan untuk membangun senjata tersebut.
Baca juga: Iran Surati PBB, Peringatkan Risiko Kerusakan Lingkungan Akibat Aksi Militer AS di Teluk Persia
Namun, AS dan Israel, yang dilaporkan melakukan kampanye pemboman besar di Iran pada Juni lalu, tetap bersikap skeptis terhadap komitmen Iran.
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan bahwa pengembangan senjata nuklir bukan bagian dari doktrin negaranya.
Konflik Berpotensi Lebih Luas
Saat ditanya apakah potensi serangan AS dapat memicu perang lebih luas di kawasan Asia Barat, Trump mengakui adanya risiko.
“Saya kira Anda selalu bisa mengatakan selalu ada risiko. Anda tahu ketika ada perang, ada risiko dalam hal apa pun,” ujarnya.
Trump juga enggan memastikan apakah langkah militer nantinya akan mengarah pada perubahan rezim di Iran.