Senin, 13 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ayatollah Ali Khamenei Tewas Diserang AS–Israel, Timur Tengah Terancam Meledak

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas setelah serangan gabungan AS–Israel, memicu eskalasi besar di Timur Tengah.

Ringkasan Berita:
  • Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah serangan militer gabungan AS–Israel  di Iran pada 28 Februari 2026.
  • Presiden AS Donald Trump menyatakan kematian Khamenei sebagai “keadilan”.
  • Sementara Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional dan lembaga negara menyampaikan belasungkawa.

 

TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Dilansir dari Al Mayadeen, televisi pemerintah Iran melaporkan Khamenei gugur di kantornya, yang terletak di kompleks Gedung Kepemimpinan di Teheran ketika serangan udara menghantam kawasan tersebut.

Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan sejumlah fasilitas penting milik pemerintah dan militer Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menyatakan pemimpin tertinggi Iran itu telah meninggal dunia.

Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyebut kematian Khamenei sebagai “keadilan bagi rakyat Iran dan warga dunia yang menjadi korban kebijakannya”.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati. Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika," tulis Trump di Truth Social miliknya.

Ia juga mengatakan kematian Khamenei dapat menjadi peluang bagi rakyat Iran untuk menentukan kembali masa depan politik negara mereka.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan terdapat banyak indikasi bahwa Khamenei “tidak lagi bersama kita”, meski pada awalnya belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kematian tersebut.

Beberapa jam setelah serangan terjadi, media pemerintah Iran melaporkan lembaga negara termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Khamenei.

Pemerintah Iran juga menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari untuk mengenang pemimpin tertinggi tersebut.

Serangan ke Beberapa Kota Iran

Baca juga: Setelah Masuk BoP, Mampukah Indonesia Diterima Iran sebagai Fasilitator?

Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan tidak hanya terjadi di Teheran.

Beberapa kota lain yang menjadi sasaran serangan antara lain Qom, Tabriz, dan Khorramshahr yang dikenal memiliki sejumlah fasilitas militer dan strategis Iran.

Serangan tersebut memicu eskalasi cepat di kawasan Timur Tengah.

Tak lama setelah serangan udara terjadi, Iran dilaporkan meluncurkan puluhan rudal balistik ke arah wilayah Israel sebagai bentuk balasan.

Media Iran melaporkan beberapa rudal menghantam wilayah sekitar Tel Aviv dan Haifa.

Ketegangan semakin meningkat setelah sejumlah ledakan juga dilaporkan terjadi di negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Beberapa negara yang dilaporkan mengalami ledakan antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah yang dapat melibatkan banyak negara di kawasan.

Tokoh Sentral Politik Iran

Khamenei merupakan tokoh paling berpengaruh dalam politik Iran selama lebih dari tiga dekade.

Melansir The Guardian, ia memimpin Iran sejak 1989 setelah wafatnya pemimpin Revolusi Iran Ruhollah Khomeini.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei juga pernah menjabat sebagai presiden Iran pada 1981 hingga 1989.

Ia lahir di kota suci Mashhad dari keluarga ulama sederhana dan mulai aktif dalam gerakan oposisi terhadap monarki Mohammad Reza Pahlavi pada 1960-an.

Khamenei merupakan salah satu tokoh penting dalam Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam Iran.

Setelah revolusi, ia naik dalam struktur kekuasaan negara dan menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sistem politik Iran.

Pengaruh Regional Iran

Selama masa kepemimpinannya, Khamenei memperkuat pengaruh Iran di Timur Tengah melalui jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai “poros perlawanan”.

Jaringan tersebut mencakup kelompok seperti Hezbollah, Hamas, serta Houthi movement di Yaman.

Strategi ini digunakan Iran untuk memperluas pengaruh geopolitiknya sekaligus menghadapi tekanan dari Israel dan Amerika Serikat.

Baca juga: Dunia Terbelah! Ukraina Dukung Serangan AS-Israel ke Iran, Rusia Sebut Agresi Ilegal

Namun sejumlah analis menilai jaringan aliansi tersebut mulai melemah dalam beberapa tahun terakhir setelah meningkatnya operasi militer Israel terhadap sekutu Iran di kawasan.

Profil dan Biodata Ali Khamenei

Ali Khamenei dikenal sebagai ulama sekaligus tokoh politik paling berpengaruh di Iran.

Ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989 menggantikan Ruhollah Khomeini.

Dengan masa kepemimpinan lebih dari tiga dekade, Khamenei menjadi salah satu kepala negara dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah, setelah Mohammad Reza Pahlavi.

Khamenei lahir dari keluarga ulama.

Ayahnya, Javad Khamenei, merupakan ulama dari etnis Azerbaijan, sedangkan ibunya, Khadijeh Mirdamadi, berasal dari keluarga Persia di Yazd.

Ia juga diyakini memiliki garis keturunan yang bersambung hingga Imam Syiah keempat, Ali al-Sajjad.

Khamenei mulai belajar agama sejak usia empat tahun dengan mempelajari Al-Qur’an di maktab.

Ia kemudian menempuh pendidikan seminari di Mashhad dan Qom serta belajar kepada sejumlah ulama besar.

Baca juga: Siap Pimpin Masa Transisi Iran, Reza Pahlavi Minta Pendukungnya Tak Kendurkan Perjuangan

Pada masa itulah ia mulai aktif dalam politik yang kemudian membawanya menjadi tokoh penting di Iran.

  • Nama lengkap: Ali Hosseini Khamenei
  • Tanggal lahir: 19 April 1939
    Tempat lahir: Mashhad, Iran
  • Kebangsaan: Iran
  • Jabatan: Pemimpin Tertinggi Iran (sejak 1989)
  • Agama: Islam Syiah
  • Orang tua: Javad Khamenei dan Khadijeh Mirdamadi
  • Jumlah saudara: Anak kedua dari delapan bersaudara

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved