Iran Vs Amerika Memanas
Putin: Pembunuhan Khamenei Merupakan Pelanggaran Keji terhadap Semua Norma Moralitas Manusia
Putin menyebut pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei sebagai pelanggaran keji terhadap norma moralitas manusia.
Ringkasan Berita:
- Putin menyebut pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei sebagai pelanggaran keji terhadap norma moralitas manusia.
- Kematian Khamenei menimbulkan ketidakpastian besar terkait suksesi kepemimpinan di Iran.
- Korps Garda Revolusi Islam berpotensi mengambil alih kekuasaan jika transisi tidak jelas.
TRIBUNNEWS.COM – Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan Israel-AS pada Sabtu (28/2/2026).
Mengutip The Guardian, Putin menyebut, pembunuhan Ali Khamenei dalam serangan udara skala besar oleh AS dan Israel sebagai pelanggaran keji terhadap semua norma moralitas manusia.
Putin menyampaikan hal tersebut dalam sebuah nota kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian:
"Mohon terima belasungkawa saya yang mendalam sehubungan dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Seyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya, yang dilakukan dengan pelanggaran keji terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional."
"Di negara kami, Ayatollah Khamenei akan dikenang sebagai negarawan terkemuka yang memberikan kontribusi pribadi yang besar bagi pengembangan hubungan persahabatan Rusia-Iran dan membawanya ke tingkat kemitraan strategis yang komprehensif."
"Saya meminta Anda untuk menyampaikan simpati dan dukungan saya yang paling tulus kepada keluarga dan sahabat Pemimpin Tertinggi, pemerintah, serta seluruh rakyat Iran."
Rusia merupakan mitra dagang utama sekaligus pemasok senjata dan teknologi bagi Iran.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyatakan serangan Israel terhadap Iran dan operasi militer AS merupakan agresi ilegal serta pelanggaran terhadap kedaulatan nasional.
Masa Depan Pemerintah Iran setelah Ayatollah Ali Khamenei Meninggal
Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dapat menjadi ancaman eksistensial terbesar bagi rezim Islam Iran dalam hampir 50 tahun keberadaannya.
Namun, menurut POLITICO, hal tersebut tidak serta-merta berarti berakhirnya teokrasi yang mengendalikan negara itu dalam waktu dekat.
Meski Iran memiliki presiden terpilih, Masoud Pezeshkian, kekuasaan sesungguhnya tetap berada di tangan pemimpin tertinggi.
Pemerintahan di bawah Ali Khamenei hanya pernah mengalami satu transisi kekuasaan sebesar ini, yakni setelah wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989.
Baca juga: Sosok Mojtaba Hosseini Khamenei Figur Berpengaruh di Balik Layar yang Dekat dengan IRGC
Selama bertahun-tahun, mantan Presiden Ebrahim Raisi difavoritkan untuk menggantikan Khamenei setelah wafatnya pemimpin tertinggi, tetapi ia tewas dalam kecelakaan helikopter pada 2024.
Sejak saat itu, putra pemimpin tertinggi yang terbunuh, Mojtaba Khamenei, disebut-sebut sebagai salah satu calon pengganti.
Ia merupakan sosok yang relatif misterius, dengan pengaruh di balik layar yang diyakini berperan penting dalam mengelola kekayaan ayahnya.