Iran Vs Amerika Memanas
Kapal Tanker Skylight yang Lewati Selat Hormuz Dibom, 4 Orang Terluka
Kapal tanker Skylight menjadi target serangan drone yang menyebabkan empat orang terluka.
Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, menangguhkan seluruh transit kapalnya melalui selat tersebut.
Namun, sebagian lalu lintas kapal masih terus berlanjut.
Tidak jelas pula apakah sejumlah kapal melewati selat itu dengan mematikan AIS (Automatic Identification System).
Menurut Reuters, pemilik terdaftar kapal tanker tersebut adalah Sea Force Inc dan dikelola oleh Red Sea Ship Management LLC.
Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada perusahaan dan kapal tersebut pada Desember 2025, dengan tuduhan mengoperasikan “armada bayangan” untuk mengangkut produk minyak bumi Iran di Teluk Persia.
Layanan pelacakan kapal Tankertrackers.com menggambarkan Skylight sebagai kapal tanker kecil yang terutama digunakan untuk mengisi bahan bakar kapal lain.
Situs tersebut juga menyebut kapal itu telah berlabuh di Provinsi Musandam sejak 22 Februari.
Insiden ini terjadi di tengah gelombang pembalasan yang lebih luas di kawasan Teluk setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran, yang telah mendorong wilayah tersebut memasuki fase konflik baru.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan terkoordinasi terhadap target-target Iran.
Musandam memiliki signifikansi strategis karena semenanjung tersebut berbagi kendali atas Selat Hormuz dengan Iran, sebuah titik penting global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Harga Minyak Bisa Terganggu
Mengutip The Week, seiring menurunnya lalu lintas di Selat Hormuz, harga minyak diperkirakan akan naik dalam beberapa hari ke depan jika konflik meningkat dan gangguan berlanjut.
Sekitar 30 persen minyak dan produk petroleum dunia yang diperdagangkan dari negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, dan Iran melewati selat tersebut setiap hari, menurut Lloyds List.
Selat Hormuz telah menjadi titik tekanan utama di tengah konflik karena Iran secara berkala menegaskan kendali atas jalur pelayaran internasional tersebut.
Namun, Iran kemungkinan tidak akan menutup jalur itu sepenuhnya, meskipun telah mengeluarkan peringatan baru-baru ini kepada kapal-kapal yang melintas.
Menutup Selat Hormuz sepenuhnya dapat memicu respons angkatan laut lanjutan dari AS dan membuat pelabuhan-pelabuhan Iran menjadi rentan.