Rabu, 29 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Rencana Trump Bisa Gagal Total di Iran Meski Khamenei Dilenyapkan

Misi Amerika Serikat dan Israel tak hanya melumpuhkan fasilitas nuklir Iran, tapi juga meruntuhkan rezim berkuasa.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Willem Jonata
YouTube Global News
ULTIMATUM TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan di Ruang Sidang DPR, Gedung Capitol, Washington, Selasa (24/2/2026). 

4. Libya (2011) 

Yang terjadi di Libya, sering dianggap sebagai kesuksesan serangan udara murni. Namun, faktanya justru memperkuat teori McFaul. 

Meski Presiden Obama menerapkan kebijakan "no boots on the ground" (tanpa kehadiran pasukan darat), rezim Muammar Gaddafi tidak jatuh hanya oleh jet tempur NATO.

Gaddafi tumbang karena adanya pasukan pemberontak (domestik), dalam hal ini NTC, yang memanfaatkan dukungan udara NATO untuk merangsek maju. 

Tanpa gerakan darat dari rakyat Libia sendiri, serangan udara NATO mungkin hanya akan berakhir pada jalan buntu. (sumber: NATO - "Operation Unified Protector Final Mission Stats".

Rencana Trump setelah kematian Khamenei

Amerika Serikat belum menjabarkan strategi untuk Iran, setelah serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan sebagian besar pejabat negara tersebut, termasuk Khamenei.

Anggota parlemen AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat AS, belum mengetahui rencana Presiden AS Donald Trump pascakematian pemimpin tertinggi Iran.

Sejauh ini, Presiden AS Donald Trump hanya menyerukan perubahan dalam pemerintahan Iran, yang telah memasuki periode ketidakpastian setelah kematian Khamenei dalam serangan hari Sabtu.

Strategi yang telah diuraikan Trump kepada publik sejauh ini sebagian besar bergantung pada harapan bahwa rakyat Iran bangkit dan menentukan masa depan mereka sendiri.

Trump juga belum menyinggung soal rencana menerjunkan pasukan darat memasuki Iran.

Kendati demikian, Trump mengirimkan sinyal tekanan kuat kepada Teheran dengan menyatakan militer AS memiliki kemampuan menjalankan operasi militer di Iran jauh lebih lama dari proyeksi awal.

Dalam keterangannya di Gedung Putih pada Senin (2/3/2026), Trump menegaskan bahwa meskipun operasi saat ini berjalan "jauh lebih cepat" dari jadwal, Amerika Serikat tidak akan ragu untuk memperpanjang durasi kampanye militer jika diperlukan.

Trump mengungkapkan bahwa sejak awal, pemerintahannya memproyeksikan operasi militer tersebut akan memakan waktu sekitar empat hingga lima minggu.

Namun, ia menekankan bahwa angka tersebut bukanlah batas akhir bagi militer AS.

"Apapun risikonya, kami akan selalu, dan sejak awal kami memproyeksikan empat hingga lima minggu, tapi kami memiliki kapabilitas untuk berjalan jauh lebih lama dari itu," tegas Trump dikutip CBS News.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved