Senin, 13 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Tak Main-main, Perang di Iran Meluas Hampir ke Eropa, Belasan Negara Terdampak

Perang di Iran yang diprakarsai oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel telah mencapai gerbang pintu Eropa. Belasan negara terdampak.

Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
  • Perang di Iran yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel ini menghasilkan dampak yang luar biasa.
  • Tak tanggung-tanggung, dalam waktu 72 jam saja, perang tersebut telah melanda hampir seluruh Timur Tengah dan bahkan mencapai gerbang masuk Eropa.
  • Perang tersebut secara langsung melibatkan setidaknya 11 negara, mengganggu aliran minyak dan gas global, dan mengguncang pasar di seluruh dunia.

TRIBUNNEWS.COM - Situasi di Timur Tengah semakin mencekam setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan Operation Epic Fury di Iran.

Hanya dalam waktu 72 jam saja, perang tersebut telah melanda hampir seluruh Timur Tengah dan bahkan mencapai gerbang masuk Eropa.

Cakupan geografis perang ini sangat mencengangkan — secara langsung melibatkan setidaknya 11 negara, mengganggu aliran minyak dan gas global, dan mengguncang pasar di seluruh dunia.

Menurut laporan Axios, Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap serangan di wilayahnya akan memicu pembalasan tidak hanya terhadap Israel, tetapi juga terhadap pangkalan-pangkalan AS di seluruh Teluk dan di Irak.

Pada jam-jam awal perang, Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone ke Israel, UEA, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Iran juga menyerang wilayah Kurdi di Irak, yang dianggapnya bersekutu erat dengan AS dan Israel.

Milisi pro-Iran menyerang pangkalan AS di Irak, dan para pendukung mereka berupaya menyerbu kompleks kedutaan AS di Baghdad.

Pada hari kedua, Iran memperluas serangannya ke Arab Saudi dan Oman — negara yang berperan penting dalam menengahi negosiasi nuklir antara Teheran dan pemerintahan Donald Trump.

Puing-puing dari dua drone Iran pada Senin (2/3/2026) menghantam kilang minyak Aramco di Arab Saudi — serangan pertama sejak tahun 2019.

Qatar — mediator kunci lainnya antara Teheran dan Washington — juga mengatakan pihaknya menembak jatuh dua jet tempur Iran.

Dalam pernyataannya, Qatar mengutuk penargetan wilayahnya yang "sembrono dan tidak bertanggung jawab".

Baca juga: Update Konflik Iran vs Israel-AS Selasa Pagi: Ledakan di Kedubes AS di Riyadh, Status Selat Hormuz

Yang mengejutkan, konflik ini kini menyeret Siprus.

Fasilitas militer Inggris di pulau yang berbatasan dengan Turki ini dihantam drone Iran, karena dianggap membantu operasional jet-jet tempur AS dan Israel.

Sementara itu, Lebanon terus dibombardir serangan udara Israel yang menargetkan titik-titik kekuatan proksi Iran, memicu kepanikan warga sipil akan adanya invasi darat.

Pemerintah Iran melalui Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, menegaskan bahwa Teheran tidak akan mundur selangkah pun.

Ia menyatakan Iran sudah masuk dalam mode "perang jangka panjang" untuk menghadapi gempuran lawan.

"Kami sudah bersiap untuk konfrontasi yang lama. Iran akan membela diri dan peradaban kami, apa pun risikonya."

"Musuh akan menyesali kesalahan perhitungan mereka," tegas Larijani dalam pernyataan resminya

Pengakuan Mengejutkan AS

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio memberikan pernyataan mengejutkan terkait serangan di Iran.

Rubio mengisyaratkan bahwa keputusan waktu serangan tersebut diambil setelah pihaknya mencium rencana Israel yang akan menggempur Teheran lebih dulu.

Dalam keterangannya di Capitol Hill, Rubio menyebut langkah AS ini sebagai serangan dini.

Baca juga: 4 Tujuan Perang Trump di Iran: Lumpuhkan Kemampuan Rudal hingga Penghentian Nuklir

Ia berdalih, jika AS tidak bergerak bersama Israel, pasukan Amerika di Timur Tengah justru akan menjadi sasaran empuk pembalasan Iran.

"Kami tahu Israel akan bertindak. Kami juga tahu tindakan itu bakal memicu serangan balasan terhadap pasukan kami."

"Jika kami tidak bergerak duluan, korban di pihak kami akan jauh lebih besar," tegas Rubio, Senin (2/3/2026), mengutip Al Jazeera.

Pernyataan ini muncul di tengah duka militer AS yang baru saja mengonfirmasi tambahan korban jiwa.

Hingga saat ini, tercatat enam tentara AS tewas akibat serangan balasan Iran.

Konflik pecah setelah operasi gabungan AS-Israel berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Teheran merespons dengan menghujankan rudal dan drone ke berbagai pangkalan militer AS di wilayah Teluk.

Rubio tak menampik bahwa peran Israel sangat krusial dalam eskalasi ini.

Ia menyebut ada "ancaman mendesak" yang memaksa Washington untuk terlibat langsung dalam operasi yang selama ini sangat diinginkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Selain alasan keamanan pasukan, Rubio menuding Iran terus memperkuat persenjataan rudal dan pesawat nirawaknya untuk melindungi ambisi nuklir mereka.

"Kami tidak akan merasa keberatan jika rakyat Iran menggulingkan pemerintahan saat ini dan membangun masa depan baru."

"Kami sangat berharap hal itu bisa terjadi," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved