Minggu, 12 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS Desak Seluruh Warganya Segera Keluar dari 14 Negara Timur Tengah

Pemerintah AS meminta warganya untuk berangkat sesegera mungkin menggunakan segala sarana transportasi yang masih tersedia.

Penulis: Bobby W
U.S. Department of State
DEPLU PERINTAH EVAKUASI - Tangkap layar tampak depan Kantor Departemen luar negeri Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat pada hari Senin waktu setempat (2/3/2026) secara resmi mendesak seluruh warganya di kawasan Timur Tengah untuk segera melakukan evakuasi mandiri. 

Sementara itu di Kuwait, warga AS diinstruksikan untuk tetap berada di dalam ruangan dan tak melakukan aktivitas di luar rumah.

Di Yordania, staf diplomatik bahkan sempat dievakuasi sementara pada hari Senin menyusul adanya ancaman keamanan.

Di Yerusalem, pihak kedutaan AS menyatakan bahwa mereka saat ini berada dalam posisi "lumpuh" dan tak dapat mengevakuasi atau secara langsung membantu warga Amerika untuk meninggalkan Israel.

Sementara itu, Bandara Ben Gurion di Tel Aviv juga masih ditutup tanpa opsi penerbangan komersial maupun sewaan.

Menanggapi situasi yang tak kondusif tersebut, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, ,memberikan tanggapannya melalui sebuah video yang diunggah di X.

Meski situasi di Timur Tengah saat ini tak begitu jelas, Rubi menegaskan komitmen pemerintah untuk mengevakuasi warganya.

"Prioritas utama kami adalah keselamatan dan keamanan warga negara Amerika di mana pun di dunia," ujar Rubio.

Ketidakpastian bagi Warga AS di Timur Tengah

Baca juga: BRIN: RI Tak Punya Power di Timteng Meski Jadi Wakil Komandan ISF, Kecuali Berhasil Mediasi AS-Iran

Meskipun Departemen Luar Negeri telah membentuk satuan tugas khusus guna menjalankan komitmen Rubio untuk membantu warga negara AS, banyaknya penangguhan layanan rutin dan darurat di konsulat membuat warga di lapangan memiliki pilihan yang sangat terbatas.

Hal ini diungkapkan salah satu warga AS, Oliver Sims (24), seorang kreator konten asal Dallas yang terjebak di Doha.

Melalui wawancara dengan NBC News, Sims mengungkapkan sulitnya mendapatkan bantuan di Timur Tengah saat ini.

Saat menghubungi kedutaan, ia mendapatkan jawaban bahwa staf kewalahan menanggapi banyaknya panggilan darurat sehingga tak dapat memberikan instruksi evakuasi lebih lanjut. 

KETERANGAN PERS - Foto Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dipasangkan pita hitam saat konferens pers di Kediaman Suta Besar untuk Indonesia di Jakarta, Senin (2/3/2026). Dalam keterangannya, Mohammad Boroujerdi menyatakan eskalasi militer yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran telah menimbulkan ratusan korban jiwa dari kalangan sipil yang jumlahnya mencapai 555 warga sipil dan selain itu serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
KETERANGAN PERS - Foto Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dipasangkan pita hitam saat konferens pers di Kediaman Suta Besar untuk Indonesia di Jakarta, Senin (2/3/2026). Dalam keterangannya, Mohammad Boroujerdi menyatakan eskalasi militer yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran telah menimbulkan ratusan korban jiwa dari kalangan sipil yang jumlahnya mencapai 555 warga sipil dan selain itu serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

"Mereka memiliki begitu banyak panggilan darurat yang masuk sehingga mereka harus menutup telepon saya," ujarnya kepada NBC News.

Meski demikian, Sims tetap berusaha tenang. Ia sempat berkomunikasi dengan kantor Senator John Cornyn yang memastikan bahwa pemerintah memantau lokasinya.

"Mereka mengatakan akan memberi tahu saya jika ada rencana untuk mengevakuasi warga negara AS," tambahnya.

Eskalasi Konflik dan Korban Jiwa

Sementara itu, Presiden Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan bahwa perang ini kemungkinan akan berlangsung selama satu bulan atau lebih.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved