Iran Vs Amerika Memanas
Trump Tak Lagi Singgung Isu Penggulingan Rezim Iran sebagai Tujuan Perang
Trump hanya menegaskan pertempuran ini diperlukan untuk mencapai dua tujuan utama. Dan itu bukan penggulingan rezim Iran.
Ringkasan Berita:
- Trump memberikan sinyal bahwa operasi militer ini bisa berlangsung jauh lebih lama dari proyeksi awal.
- Tujuan perang menurut Trump, yakni mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meski tuduhan tersebut secara konsisten dibantah oleh Teheran, dan melumpuhkan program rudal balistik jarak jauh Iran.
- Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa, mengatakkan satu-satunya bahasa untuk berbicara dengan Amerika Serikat adalah bahasa pertahanan
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mulai membangun narasi untuk membenarkan perang tanpa batas waktu terhadap Iran.
Dalam pidato publik perdananya di Gedung Putih sejak konflik pecah pada akhir pekan lalu, Trump memberikan sinyal bahwa operasi militer ini bisa berlangsung jauh lebih lama dari proyeksi awal.
Yang menarik, meski serangan udara AS dan Israel telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan menghancurkan sedikitnya 1.000 target strategis di Iran, Trump sama sekali tidak menyinggung isu "perubahan rezim" sebagai tujuan perang.
Baca juga: Amstrong Sembiring: Perang Iran Versus Israel–AS, Tantangan dan Peluang bagi Indonesia?
Padahal sebelumnya Trump menyinggung pergantian rezim. Bahkan memprovokasi rakyat Iran untuk bergerak merebut kedaulatan dari rezim setelah Khamenei meninggal dalam serangan mematikan.
Trump hanya menegaskan pertempuran ini diperlukan untuk mencapai dua tujuan utama, yakni mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meski tuduhan tersebut secara konsisten dibantah oleh Teheran, dan melumpuhkan program rudal balistik jarak jauh Iran.
"Rezim Iran yang bersenjata rudal jarak jauh dan nuklir akan menjadi ancaman yang tidak dapat ditoleransi, bukan hanya bagi Timur Tengah, tapi juga bagi rakyat Amerika," ujar Trump seperti dilaporkan Reuters, Senin (2/3/2026) waktu setempat.
Meskipun awalnya diproyeksikan memakan waktu empat hingga lima minggu, Trump kini menyatakan siap melampaui jadwal tersebut.
Lewat unggahan di media sosial, ia sesumbar bahwa AS memiliki suplai amunisi yang "hampir tak terbatas" dan mengeklaim bahwa perang bisa diperjuangkan "selamanya" dengan hasil yang sukses.
Tak ada negosiasi
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahreini, menutup rapat pintu negosiasi dengan Washington.
Ia ragu akan kegunaan dialog setelah serangan mendadak yang dilancarkan AS dan Israel tepat setelah adanya laporan "kemajuan" dalam pembicaraan di Oman pada Kamis lalu.
"Untuk saat ini, kami sangat ragu akan kegunaan negosiasi. Satu-satunya bahasa untuk berbicara dengan Amerika Serikat adalah bahasa pertahanan," tegas Bahreini kepada wartawan dilaporkan Reuters, Selasa (3/3/2026).
Bahreini menambahkan bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi Iran untuk melakukan pembicaraan diplomatik dalam bentuk apa pun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TUJUAN-PERANG-TRUMP-DI-IRAN-03032026.jpg)