Senin, 13 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Iran Vs Amerika Memanas

Amstrong Sembiring: Perang Iran Versus Israel–AS, Tantangan dan Peluang bagi Indonesia?

Konflik AS–Israel–Iran mengguncang global, dampaknya terasa di Indonesia: ekonomi, energi, sosial, hingga diplomasi.

Editor: Glery Lazuardi
HO/IST
PERANG TIMUR TENGAH - Gejolak perang di Timur Tengah, bayangannya sampai ke Indonesia: inflasi, energi, haji, dan diplomasi netral. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Amstrong Sembiring
Penulis adalah aktivis Hukum yang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung, Sekolah Tinggi Hukum Indonesia, dan Universitas Indonesia. Saat ini, penulis aktif sebagai Advokat, Dosen, dan Penulis Buku

MENURUT saya ketika konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel meluas ke Iran, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi mulai terasa hingga ke Asia Tenggara  termasuk Indonesia.

Perang ini, meskipun jauh secara geografis, menimbulkan gelombang gejolak global yang menuntut respons cermat dari pemerintah, elite politik, pelaku ekonomi, dan masyarakat luas. 

Berbagai dampak tersebut  seperti halnya : 

Pertama,  dampak ekonomi seperti Inflasi, Pertumbuhan, dan Beban Anggaran

Konflik yang melibatkan AS dan Israel telah memicu lonjakan harga minyak dunia karena ketidakpastian pasokan energi. Selat Hormuz  jalur utama pengiriman minyak global yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan energi sempat terancam terganggu ketika Iran menutupnya sebagai respons perang. 

Bagi Indonesia, yang masih mengimpor minyak dan energi, kenaikan harga minyak mentah berujung pada beberapa konsekuensi ekonomi yaitu :

Pertama, tekanan terhadap inflasi harga BBM dan energi naik sehingga biaya logistik serta produksi ikut terdongkrak. 

Kedua, melemahnya rupiah karena investor global mencari aset aman (safe haven) seperti dolar AS atau emas. 

Ketiga, penurunan laju pertumbuhan ekonomi karena konsumsi domestik tertekan inflasi, dan investasi terhambat oleh ketidakpastian global. 

Menurut Amstrong dari  beberapa analis memproyeksikan pertumbuhan Indonesia bisa berada di kisaran lebih rendah dari target jika konflik berkepanjangan. 

Beban APBN meningkat, terutama jika pemerintah harus menaikkan subsidi untuk menahan harga domestik tetap stabil. 

Berikutnya kedua,  ketergantungan Energi dan Kebutuhan Ketahanan Nasional

Ketidakstabilan geopolitik seperti ini seharusnya menjadi alarm bagi Indonesia mengenai ketergantungan terhadap energi impor. Para pelaku sektor energi melihat situasi ini sebagai momentum mempercepat agenda swasembada energi dan memperluas investasi dalam energi terbarukan maupun cadangan strategis nasional. 

Lalu kemudian yang ketiga, yaitu sisi sosial dan keagamaan yaitu Umrah Haji dan Mobilitas Warga

Perang di Timur Tengah juga memiliki dampak sosial yang lebih langsung  gangguan terhadap perjalanan ibadah Umrah dan Haji. Situasi konflik membuat jadwal penerbangan dan keamanan jamaah menjadi lebih rumit, terutama bagi puluhan ribu warga Indonesia yang berada di kawasan saat eskalasi terjadi. 

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved