Senin, 20 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

FPN: Iran Sudah Siaga Hadapi Serangan AS-Israel, Amerika Masih Trauma dengan Pertempuran Panjang

Eskalasi konflik yang memanas setelah serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) itu justru akan menjadi bumerang bagi Amerika Serikat.

Ringkasan Berita:
  • AS berduet dengan Israel melakukan serangan ke Iran mulai Sabtu (28/2026) lalu, di mana Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat agresi militer tersebut.
  • Sekjen FPN Furqan AMC pun menilai, konflik ini berpotensi berkembang menjadi pertempuran berkepanjangan.
  • Menurutnya, Iran sudah sangat siap menghadapi serangan, sedangkan AS justru tidak siap lantaran masih trauma dengan perang panjang di Irak dan Afghanistan.

TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Free Palestine Network (FPN) Furqan AMC memprediksi, konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran akan menjadi pertempuran panjang.

Menurutnya, konflik yang kembali memanas setelah serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu justru akan menjadi bumerang bagi AS.

Hal ini disampaikan Furqan AMC dalam program diskusi Overview yang tayang di kanal YouTube Tribunnews.com, Selasa (3/3/2026).

Mulanya, Furqan menyebut, Iran saat ini baru menggunakan stok persenjataan lama dalam melakukan serangan balasannya.

Ia juga menilai, Iran sudah sangat mempersiapkan diri dalam menghadapi serangan AS-Israel sejak lama.

Oleh karenanya, tutur Furqan, besar kemungkinan pertempuran Iran vs AS-Israel ini akan berlangsung lama.

"Iran baru menggunakan senjata-senjata yang bukan yang terbaru, menghabiskan stok yang lama, itu satu," kata Furqan.

"Terus yang kedua, Iran juga punya stok ribuan, baik rudal apalagi drone. Satu drone saja bisa menghancurkan satu kilang minyak, satu industri minyak yang ada di kawasan."

"Jadi, saya kira ini akan menjadi pertempuran panjang, tidak akan selesai dalam hitungan hari karena Iran memang sudah menyiapkan itu dari jauh-jauh hari."

Amerika Tidak Siap, Masih Ada Trauma dengan Perang Panjang

Lalu, Furqan AMC mengatakan, Amerika Serikat tidak siap dengan perang berkepanjangan yang bisa jadi akan terus didorong oleh Iran pasca-serangan pada Sabtu, 28 Februari 2026 itu.

Baca juga: FPN: Serangan AS-Israel adalah Konflik Historis, Iran Pertaruhkan Segalanya demi Membela Palestina

Kata dia, ada beberapa kondisi yang membuat Amerika tidak siap.

Pertama, Amerika masih trauma dengan perang panjang, seperti yang dihadapi di Irak (yang berlangsung selama delapan tahun, 20 Maret 2003 – 15 Desember 2011) dan di Afghanistan (berlangsung hampir 20 tahun, 2001-2021, dimulai setelah Serangan 11 September 2001 atau 9/11).

Kedua, kondisi ekonomi Amerika tidak bagus, serta banyaknya kritik terhadap serangan ke Iran di internal pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

"Sementara Amerika tentu tidak dalam posisi siap lagi untuk perang panjang karena trauma dengan perang yang ada di Irak dan juga di wilayah lain seperti Afghanistan," papar Furqan.

"Apalagi ekonomi Amerika saat ini tidak dalam kondisi yang bagus dan kritik di internalnya juga tinggi, terjadi pembelahan. Saya kira situasi itu semua tidak menguntungkan Amerika untuk saat ini."

Donald Trump Tersandera

Keputusan AS ikut menyerang Iran, dinilai Furqan AMC, sebagai bentuk kecerobohan Presiden AS Donald Trump yang sudah tersandera secara politik oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.

"Kecerobohan Donald Trump yang mungkin sudah tersandera secara politik oleh Netanyahu kemudian akhirnya dengan gegabah mengawali serangan ini," ucap Furqan.

"Saya kira ini akan menjadi bumerang yang akan berdampak buruk terhadap Amerika."

Furqan AMC yang juga Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini menilai, anggapan umum bahwa Iran akan tumbang karena serangan AS-Israel akan terpatahkan,

Sebab, masih banyak informasi terbaru yang belum diketahui tentang apa saja persiapan yang sudah dilakukan Iran.

Selain itu, menurut Furqan, Iran akan terus memperpanjang pertempuran karena tentu saja sudah memiliki persiapan matang.

"Kalau sebagian orang percaya bahwa Iran akan runtuh dengan serangan Amerika ini, saya kira itu mungkin karena kurang banyak informasi yang up to date langsung dari Iran, karena banyak informasi yang diserap dari media-media buzzer," jelas Furqan.

"Nah, jadi dalam konteks ini saya kira Iran akan terus memaksakan pertarungan ini menjadi panjang."

Tanda-tanda Iran ingin memperpanjang pertempuran terlihat dari sikap Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menolak tawaran negosiasi.

Sementara, pemimpin sementara Dewan Kepemimpinan Iran (leadership council) pasca-tewasnya Ayatollah Ali Khamenei juga enggan melayani perundingan.

Menurut Furqan, hal-hal tersebut justru memutarbalikkan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut pihak Iran meminta negosiasi, semakin menunjukkan kebiasaan berbohong Presiden AS ke-74 itu,

"Kemarin tawaran negosiasi pun dia tolak. Menteri Luar Negeri Araghchi sudah menyatakan dengan tegas tidak akan melayani. Begitu pun pemimpin sementara dari dewan kepemimpinannya, juga menyatakan tidak akan melayani perundingan," ucap Furqan.

"Justru itu menelanjangi bagaimana Donald Trump bilang Iran yang justru minta perundingan. Saya kira narasi-narasi bohong itu sudah biasa dilakukan oleh Trump."

Menlu Iran Abbas Araghchi: Perang Didorong oleh Agenda ‘Israel Pertama’

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Washington mengorbankan nyawa warga Amerika dan Iran untuk memajukan apa yang ia sebut sebagai agenda “Israel Pertama."

Hal ini dia sampaikan saat menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang membela serangan AS baru-baru ini.

Dalam pernyataan di akun media sosial X (Twitter) @araghchi pada Selasa (3/3/2026), Abbas Araghchi membantah klaim yang menyebut Iran menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan AS.

Ia pun menyebut, segala pertumpahan darah warga AS dan Iran adalah tanggung jawab para pejabat di Washington yang lebih memprioritaskan perhitungan strategis Israel.

Berikut pernyataan Abbas Araghchi:

Rubio mengakui apa yang kita semua ketahui: AS telah memasuki perang pilihan atas nama Israel. Tidak pernah ada yang namanya "ancaman" Iran.
Dengan demikian, pertumpahan darah Amerika dan Iran adalah tanggung jawab pendukung Israel.
Rakyat Amerika pantas mendapatkan yang lebih baik dan harus merebut kembali negara mereka.

Sebelumnya, Marco Rubio telah menggambarkan serangan AS-Israel dengan istilah 'preemtif' saat berbicara di Capitol Hill, Senin (2/3/2026).

Ia mengklaim, Washington meyakini bahwa Iran akan segera menargetkan pasukan AS jika Israel melakukan serangan yang direncanakan.

Ia menegaskan bahwa menyerang terlebih dahulu akan mencegah jatuhnya korban jiwa Amerika yang lebih besar dan mengatakan para pemimpin kongres — termasuk kelompok “Gang of Eight” — telah diberi pengarahan.

Namun, kantor berita Reuters melaporkan bahwa para pejabat pemerintah AS mengatakan kepada staf kongres dalam pengarahan tertutup bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran telah merencanakan untuk menyerang pasukan AS terlebih dahulu.

Washington Post juga melaporkan adanya kekhawatiran di dalam Pentagon mengenai risiko eskalasi dan tekanan pada sumber daya militer AS.

(Tribunnews.com/Rizki A.)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved