Militer China ‘Bersih-bersih’ Lagi, 10 Perwira PLA Dicopot Picu Efek Domino
Sebanyak 10 perwira Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dicopot dari posisi mereka sebagai delegasi Kongres Rakyat Nasional (NPC).
Ringkasan Berita:
- Sebanyak 10 perwira Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dicopot dari jabatan delegasi Kongres Rakyat Nasional (NPC).
- Pencopotan ini biasanya menandakan adanya dugaan pelanggaran serius atau penyelidikan internal.
- Banyak perwira terseret karena jejaring dan kedekatan dengan pejabat yang sudah diselidiki.
- Sejumlah nama senior dari angkatan laut, udara, darat, hingga lembaga pusat militer dicopot, termasuk mantan komandan dan komisaris politik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pembersihan internal kembali mengguncang militer China.
Sebanyak 10 perwira Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dicopot dari posisi mereka sebagai delegasi Kongres Rakyat Nasional (NPC).
Dikutip dari The Diplomat, Kamis (5/3/2026), langkah tersebut diumumkan NPC pada 26 Februari, hanya beberapa hari menjelang pertemuan politik tahunan penting China yang dikenal sebagai “Dua Sesi.”
Menurut konvensi politik China, pencopotan delegasi NPC biasanya menandakan adanya masalah serius yang menimpa pejabat yang bersangkutan.
Meski NPC tidak memberikan alasan resmi, analisis terhadap latar belakang para perwira menunjukkan bahwa banyak dari mereka memiliki hubungan dengan jenderal-jenderal yang sebelumnya telah terseret dalam pembersihan internal militer.
Hal ini menunjukkan bahwa gelombang pembersihan sebelumnya kemungkinan memicu efek domino di tubuh PLA, menjatuhkan baik perwira aktif maupun pensiunan yang memiliki keterkaitan jaringan dengan pejabat yang telah diselidiki.
Salah satu nama yang terdampak adalah Laksamana Purnawirawan Shen Jinlong, yang menjabat sebagai komandan Angkatan Laut PLA pada 2017–2021.
Dirinya dicopot dari jabatan deputi NPC bersama komisaris politik Angkatan Laut saat itu, Laksamana Qin Shengxiang.
Shen dikenal sebagai perwira karier angkatan laut yang memulai karier dari level komandan regu dan memiliki pengalaman operasional luas sebelum naik ke posisi puncak.
Sementara Qin menghabiskan sebagian besar kariernya di Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC) sebelum diangkat sebagai komisaris politik Angkatan Laut pada 2017.
Dr. Zi Yang adalah peneliti di Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam (RSIS), Universitas Teknologi Nanyang (NTU), Singapura mengatakan, di bawah kepemimpinan keduanya, angkatan laut China mengalami ekspansi signifikan, baik dari sisi jumlah kapal maupun kemampuan tempur.
"Namun karier mereka beririsan dengan naiknya Zhang Youxia sebagai wakil ketua CMC, yang dilaporkan disingkirkan pada akhir Januari lalu," ujarnya.
Hubungan profesional dan jaringan personal tersebut diduga turut memengaruhi pencopotan Shen dan Qin.
Kasus serupa juga terjadi pada mantan komisaris politik Angkatan Udara PLA, Yu Zhongfu.
Ia sebelumnya bekerja bersama Komandan Angkatan Udara Ding Laihang pada periode 2017–2021. Ding sendiri telah berada di bawah penyelidikan korupsi sejak 2023, sehingga hubungan kerja tersebut diduga turut menyeret Yu.
Sementara itu, Jenderal Li Qiaoming, komandan Angkatan Darat PLA, juga termasuk dalam daftar yang dicopot dari jabatan deputi NPC pada 26 Februari. Li dilaporkan tidak muncul di publik sejak jamuan makan malam Hari PLA pada Juli tahun lalu.
Karier Li yang sebelumnya memimpin Komando Teater Utara hingga menjadi komandan Angkatan Darat juga beririsan dengan pengaruh Zhang Youxia di Komisi Militer Pusat.
Selain Li, mantan komisaris politik Pasukan Pendukung Informasi PLA, Li Wei, juga dilaporkan menghilang dari publik sejak jamuan Hari PLA tahun lalu. Ia sebelumnya bertugas bersama Komandan Pasukan Pendukung Strategis Ju Qiansheng, yang juga lama dikabarkan berada dalam penyelidikan.
Ju sendiri gagal menghadiri sejumlah agenda penting, termasuk jamuan Hari PLA dan Sidang Pleno Keempat Partai Komunis China. Ia belum terlihat di publik sejak saat itu.
Gelombang Pembersihan Internal
Pembersihan pada 26 Februari juga menjangkau komandan unit operasional.
Mayor Jenderal Ding Laifu, komandan Angkatan Darat Grup ke-73, serta Mayor Jenderal Yang Guang, komandan Pangkalan Pasukan Roket PLA ke-64, turut kehilangan status sebagai deputi NPC.
Angkatan Darat Grup ke-73 bermarkas di Provinsi Fujian dan berada di garis depan jika terjadi konflik dengan Taiwan. Unit ini diperkirakan akan menjadi ujung tombak operasi pendaratan PLA dalam skenario perang di Selat Taiwan.
Namun sejumlah tokoh penting yang pernah terkait dengan unit tersebut telah lebih dulu terseret pembersihan pada Oktober 2025, termasuk mantan Wakil Ketua CMC He Weidong, Direktur Departemen Kerja Politik Miao Hua, serta mantan Komandan Komando Teater Timur Lin Xiangyang.
Selain para perwira lapangan, pembersihan juga menjangkau pejabat di tingkat Komisi Militer Pusat.
Mayor Jenderal Bian Ruifeng diduga terseret karena pernah menjadi asisten Miao Hua di Departemen Kerja Politik.
Komisaris politik Departemen Mobilisasi Pertahanan Nasional CMC, Wang Donghai, juga dicopot dari posisi deputi NPC.
Ia sebelumnya pernah bertugas di bawah Liu Faqing, mantan kepala departemen tersebut yang dilaporkan menghilang sejak Sidang Pleno Keempat pada Oktober 2025.
Di sektor peradilan militer, Ketua Hakim PLA Mayor Jenderal Liu Shaoyun juga diperkirakan terseret imbas pemecatan atasannya, Wang Renhua, yang menjabat sekretaris Komisi Urusan Politik dan Hukum CMC sebelum diberhentikan pada Desember 2025.
Pembersihan ini juga berpotensi memengaruhi sistem kontraintelijen militer, mengingat bidang tersebut berada di bawah pengawasan Komisi Urusan Politik dan Hukum.
Tahun Penuh Ketidakstabilan
Secara keseluruhan, pembersihan 26 Februari mencakup lima mantan perwira senior yang pernah memimpin berbagai cabang militer PLA, dua komandan unit operasional, serta tiga jenderal yang bertugas di organisasi tingkat CMC.
Gelombang ini menunjukkan bahwa pembersihan yang dimulai pada 2025 hingga awal 2026 telah menimbulkan efek berantai di dalam militer China.
Situasi tersebut diperkirakan meningkatkan rasa tidak aman di kalangan perwira dan berpotensi menyeret lebih banyak pemimpin militer, baik yang masih aktif maupun yang telah pensiun.
Jika tren ini berlanjut, pergolakan kepemimpinan di PLA dapat memengaruhi moral pasukan dan kualitas kepemimpinan di unit garis depan, termasuk Angkatan Darat Grup ke-73 yang berhadapan langsung dengan Taiwan.
Baca juga: Misteri Upaya Kudeta 18 Januari: Rumor Gagalnya Penangkapan Xi Jinping oleh 2 Jenderal Senior PLA
Sejumlah analis bahkan memprediksi 2026 akan menjadi tahun penuh ketidakstabilan bagi PLA, dengan penyelidikan yang kemungkinan terus meluas ke berbagai cabang dan unit militer.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.