Rabu, 15 April 2026

Blokade AS di Selat Hormuz Sebenarnya Menyasar China dan India, Kok Bisa?

Berbagai sumber dari China dan Barat memperkirakan bahwa sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran dikirim di China.

Penulis: Hasanudin Aco
HO
Foto ilustrasi bendera China dan AS berkibar. Blokade terhadap Selat Hormuz akan berdampak ke ekonomi China. 

Ringkasan Berita:
  • Bagaimana blokade AS terhadap pelabuhan Iran dapat berdampak pada China dan India, dengan efek limpahan yang lebih luas.
  • Blokade militer AS terhadap pelabuhan Iran berisiko menaikkan harga energi global dan menekan pasokan.
  • Tiongkok China sebagai tujuan utama sekitar 90 persen ekspor minyak Iran akan terganggu dengan blokade AS ini.
  • Gangguan ini mendorong Tiongkok mencari sumber alternatif, meningkatkan persaingan global dan berpotensi memicu kenaikan harga. 

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Blokade yang terus dilakukan militer Amerika Serikat (AS) terhadap kapal-kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz berisiko menimbulkan lebih banyak penderitaan terhadap sejumlah negara karena harga energi akan naik.

Namun dua ekonomi terbesar di Asia yakni  China dan India  kemungkinan akan merasakan dampaknya secara berbeda dari efek domino pada pasokan energi global.

China adalah mitra dagang utama Iran.

Berbagai sumber dari China dan Barat memperkirakan bahwa sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran dikirim ke  China selama ini.

Ekspor minyak Iran ke China  meningkat sekitar 30 persen sejak satu dekade lalu, setelah sanksi AS terhadap Iran menyingkirkan sebagian besar pembeli minyak Iran.

Minyak mentah Iran menyumbang sekitar 13 persen hingga 15 persen dari total impor minyak China.

Meskipun Iran secara efektif menutup Selat Hormuz tersebut sejak awal perang pada 28 Februari  lalu namun Iran  tetap mengizinkan kapal-kapal tertentu dari China untuk melewatinya.

Setidaknya dua kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar milik raksasa perkapalan Tiongkok, Cosco, berhasil melewati jalur air tersebut pada tanggal 11 April, menjadi kapal tanker milik negara pertama yang meninggalkan Teluk Timur Tengah sejak pecahnya konflik, menurut data pelacakan kapal Lloyd's List Intelligence.

Menurut data tersebut, salah satu kapal membawa minyak mentah Irak sementara yang lainnya membawa minyak mentah Saudi.

Namun data tersebut tidak menunjukkan apakah kapal tanker tersebut mengunjungi pelabuhan Iran. Cosco setidaknya masih memiliki lima kapal lain yang menunggu di Teluk Persia.

Pada 14 April, sebuah kapal tanker yang dikenai sanksi AS dan terkait dengan China dilaporkan melintasi selat tersebut, meskipun tidak jelas apakah kapal itu mengunjungi pelabuhan Iran atau membawa kargo, menurut laporan Bloomberg.

Dampaknya ke China

AS mulai memblokir semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran dan melalui Selat Hormuz mulai 13 April pukul 9 malam waktu Jakarta.

"Tindakan AS ini pasti akan menekan impor minyak mentah China," kata Sumit Ritolia, analis utama untuk pasokan dan pemodelan penyulingan di perusahaan analitik maritim Kpler.

“Jika China menghadapi penegakan hukum yang lebih ketat atau gangguan logistik, mereka akan semakin banyak mencari pasokan dari pemasok alternatif,” kata dia kemungkinan China akan mencari pasokan alternatif minyak dari Asia Barat, Rusia, Afrika Barat, dan Benua Amerika lainnya.

Hal ini diperkirakan akan meningkatkan persaingan pasokan di antara importir minyak mentah global, yang selanjutnya akan mendorong kenaikan harga, termasuk untuk India yang haus energi, yang memperoleh lebih dari 80 persen minyak mentahnya dan sekitar setengah dari kebutuhan gas alamnya dari luar negeri.

DITUTUP - Iran menutup Selat Hormuz buntut perang melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel. TRIBUNNEWS
DITUTUP - Iran menutup Selat Hormuz buntut perang melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel. TRIBUNNEWS (TRIBUNNEWS/)

Dampaknya juga ke  India

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved