Iran Vs Amerika Memanas
Trump Ngotot Mau Terlibat Pemilihan Pemimpin Baru Iran, Tak Terima Kalau Mojtaba Khamenei Terpilih
Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya harus terlibat langsung dalam pemilihan pemimpin baru Iran. Tak mau anak Ali Khamenei terpilih.
Ringkasan Berita:
- Donald Trump ingin terlibat dalam pemilihan pemimpin baru Iran, menolak Mojtaba Khamenei sebagai penerus.
- Trump memperingatkan United States bisa kembali berperang jika Iran melanjutkan kebijakan Ali Khamenei.
- Iran membentuk dewan kepemimpinan sementara setelah kematian Ali Khamenei, sambil menyiapkan pemimpin baru.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya harus terlibat langsung dalam pemilihan pemimpin baru Iran, seperti dilaporkan situs berita AS Axios pada Kamis (5/3/2026).
Trump dalam wawancaranya dengan Axios menyatakan tidak dapat diterima jika Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran yang telah wafat Ali Khamenei, menjadi pemimpin baru Iran.
“Saya harus terlibat dalam penunjukannya,” kata Trump.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima bagi saya,” imbuhnya.
Bahkan Trump memperingatkan jika Iran memilih pemimpin baru yang melanjutkan kebijakan Ali Khamenei, maka AS akan dipaksa kembali berperang dalam lima tahun.
Dikutip dari Xinhua, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi sebelumnya mengatakan kepada media setelah kematian Khamenei akibat serangan terbaru AS dan Israel, Iran telah membentuk dewan kepemimpinan sementara beranggotakan tiga orang untuk menangani urusan negara hingga pemimpin tertinggi baru dipilih.
Televisi pemerintah Iran Islamic Republic of Iran Broadcasting pada Rabu melaporkan beberapa kandidat untuk posisi pemimpin tertinggi telah diidentifikasi, dan pemilihannya diperkirakan akan segera dilakukan.
Baca juga: UNICEF: Hampir 200 Anak Tewas akibat Serangan AS-Israel, Iran Laporkan Jumlah Korban Terbanyak
Mojtaba Khamenei Disebut Calon Kuat
Mojtaba Khamenei muncul sebagai calon kuat Pemimpin Tertinggi Iran.
Penunjukannya dinilai menegaskan menguatnya politik dinasti keluarga Khamenei sekaligus memperlihatkan dominasi Garda Revolusi Iran dalam arah kepemimpinan Republik Islam di tengah krisis.
Para ulama senior yang bertanggung jawab memilih Pemimpin Tertinggi berikutnya di Iran menggelar pertemuan pada 3 Maret untuk membahas suksesi.
Putra dari pemimpin sebelumnya yang tewas, Ayatollah Ali Khamenei, muncul sebagai kandidat terkuat, menurut tiga pejabat Iran yang mengetahui jalannya pembahasan.
Pejabat-pejabat itu mengatakan para ulama mempertimbangkan untuk mengumumkan putranya, Mojtaba Khamenei, akan menjadi pengganti ayahnya pada pagi hari 4 Maret, tetapi beberapa di antaranya menyatakan kekhawatiran, takut hal itu bisa menjadikannya target Amerika Serikat dan Israel.
Mereka berbicara dengan syarat anonim karena membahas keputusan internal yang sensitif.
Para ulama, yang dikenal sebagai Majelis Ahli, mengadakan dua pertemuan virtual, satu pagi dan satu sore, menurut para pejabat.
Israel menyerang sebuah bangunan di Qum, salah satu pusat kekuasaan utama Syiah, tempat majelis dijadwalkan bertemu dan memilih pemimpin tertinggi baru, tetapi bangunan itu kosong, menurut kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pilkan-Presiden-Donald-Trump-berbicara-kepad.jpg)