Sabtu, 11 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Beda dengan Trump, Intelijen AS: Rezim di Iran Tak Mungkin Digulingkan meski Digempur Terus Menerus

Intelijen AS menyebut rezim di Iran tidak mungkin digulingkan meski digempur berulang kali. Pasalnya sudah ada sistem pemerintahan yang kuat.

Ringkasan Berita:
  • Dewan Intelijen AS menyebut bahwa rezim di Iran tidak akan runtuh meski diserang terus menerus. Pasalnya ulama dan militer Iran akan tetap berkuasa meski pemimpin senior terbunuh.
  • Laporan ini menyebut bahwa sistem pemerintahan di Iran dibuat justru akan menimbulkan suksesi ketika pemimpin tertingginya terbunuh alih-alih rezim tumbang.
  • Adapun laporan itu dibuat sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

TRIBUNNEWS.COM - Dokumen intelijen Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa gempuran militer AS dengan skala besar ke Iran tidak akan mampu menggulingkan pemerintah yang berkuasa di negara tersebut.

Berdasarkan laporan dari The Washington Post pada Minggu (8/3/2026), analisis itu dibuat oleh Dewan Intelijen Nasional (NIC) sebelum AS melakukan serangan ke Iran bersama Israel pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

NIC merupakan lembaga tinggi di AS yang bertugas di bawah Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) dan berfungsi sebagai penghubung utama antara komunitas intelijen dan para pembuat kebijakan.

Analisis tersebut menyatakan bahwa ulama dan militer Iran kemungkinan akan tetap berkuasa bahkan ketika para pemimpin senior terbunuh.

Selain itu, intelijen AS juga menyatakan bahwa institusi di Iran disusun untuk menjaga kesinambungan kekuasaan yang berarti kematian Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, akan memicu suksesi yang memang dirancang untuk mempertahankan sistem a quo alih-alih mengakibatkan runtuhnya rezim.

Baca juga: Trump Tak Masalah Rusia Bantu Iran Beri Informasi soal Posisi Aset AS di Timteng: Manfaatnya Sedikit

Laporan tersebut juga menganggap bahwa oposisi di Iran tidak mampu untuk menjatuhkan rezim saat ini, terlepas dari apakah AS melancarkan serangan terbatas terhadap sasaran kepemimpinan atau serangan lebih luas yang menyasar institusi pemerintah.

Gedung Putih belum mengonfirmasi apakah Presiden Donald Trump telah mengetahui terkait laporan tersebut, meskipun para pejabat menyatakan serangan yang dilakukan bertujuan untuk menghancurkan kemampuan rudal Iran, membongkar angkatan lautnya, dan mencegah negara itu memperoleh senjata nuklir.

Trump ke Rakyat Iran: Ambil Alih Pemerintahan usai Kami Selesai 

Pada awal serangan AS, Trump sempat meminta agar rakyat Iran berlindung dan merebut kekuasaan setelah penyerangan selesai dilakukan.

"Tetap berlindung, jangan tinggalkan rumah Anda, di luar akan sangat berbahaya sekali. Bom akan jatuh di mana-mana," kata Trump dalam pidato yang diunggah di medsos, Truth Social.

"Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan. Itu akan jadi milik kalian," sambungnya.

Baca juga: AS Klaim Serangan Rudal Iran Berkurang 90 Persen, Trump Ogah Serang Darat, Minta IRGC Taruh Senjata 

Kala itu, Trump juga berpesan kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) agar menyerah daripada menghadapi 'kematian yang pasti'.

"Untuk anggota Garda Revolusi Islam Iran dan Angkatan Bersenjata, kepada pihak kepolisian, saya minta Anda serahkan senjata Anda. Maka Anda akan dapat imunitas total, jika tidak Anda akan menghadapi kematian" kata Trump.

"Sekali lagi menyerahlah, Anda akan diperlakukan pantas dan dapat imunitas, jika tidak kalian akan mati," pungkasnya.

Trump Ngotot Terlibat Pilih Pemimpin Iran 

Usai Khamenei tewas, Trump ngotot ingin terlibat dalam penentuan penerus Pemimpin Tinggi Iran.

Diketahui, Khamenei dinyatakan tewas bersama menantu dan cucunya pada serangan AS, Sabtu (28/2/2026).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved