Iran Vs Amerika Memanas
Krisis Energi Mengintai, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 100 Dolar AS Jika Hormuz Masih Ditutup
Krisis energi mengintai! Harga minyak dunia berpotensi tembus US$100 per barel jika Selat Hormuz masih ditutup akibat konflik Iran vs AS–Israel.
Setiap hari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut sebelum didistribusikan ke berbagai negara konsumen di Asia, Eropa, dan Amerika.
Pasokan Energi Global Terancam Menyusut
Pasca peringatan dilontarkan Sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan drone dan rudal, sementara ratusan kapal lainnya memilih berhenti berlayar di sekitar kawasan Teluk karena alasan keamanan.
Dalam situasi ini, Goldman Sachs memperkirakan volume perdagangan minyak yang melewati Selat Hormuz saat ini telah turun hingga sekitar 90 persen dibandingkan kondisi normal.
“Kami sekarang juga berpikir kemungkinan harga minyak, terutama untuk produk olahan, akan melebihi puncak tahun 2008 dan 2022 jika Selat Hormuz tetap tertekan sepanjang bulan Maret,” tulis Goldman Sachs dalam catatan risetnya, sebagaimana dikutip dari The Standard.
Penurunan stok tersebut kemungkinan juga akan diperparah oleh turunnya produksi minyak di kawasan Timur Tengah selama periode konflik berlangsung.
Jika kondisi ini terjadi secara bersamaan, keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak global akan terganggu secara signifikan.
Akibatnya, harga minyak dapat melonjak dalam waktu relatif singkat karena pasar menghadapi kekurangan suplai.
Selat Hormuz: Titik Rawan Energi Dunia
Goldman Sachs menilai kondisi tersebut membuat harga minyak sangat rentan terhadap lonjakan tajam dalam waktu singkat.
Jika gangguan distribusi berlangsung lebih lama dari perkiraan, maka pasar energi global dapat mengalami tekanan besar yang berujung pada kenaikan harga hingga melampaui 100 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan biaya transportasi, produksi industri, serta harga barang dan jasa di berbagai negara.
Karena itu, para analis menilai perkembangan situasi di Selat Hormuz dalam beberapa pekan kedepan akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan harga minyak dunia.
Situasi ini membuat pasar energi global kini berada dalam kondisi siaga tinggi, sementara para pelaku industri dan pemerintah di berbagai negara mulai bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan harga energi dalam waktu dekat.
(Tribunnews.com / Namira)