Iran Vs Amerika Memanas
Krisis Energi Mengintai, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 100 Dolar AS Jika Hormuz Masih Ditutup
Krisis energi mengintai! Harga minyak dunia berpotensi tembus US$100 per barel jika Selat Hormuz masih ditutup akibat konflik Iran vs AS–Israel.
Ringkasan Berita:
- Harga minyak dunia berpotensi menembus US$100 per barel jika Selat Hormuz tetap ditutup akibat eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
- Ketegangan perang memicu gangguan distribusi energi global. Lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz turun hingga sekitar 90 persen, mengancam pasokan minyak dunia.
- Jika pasokan terus terganggu, keseimbangan suplai dan permintaan global bisa terguncang, memicu lonjakan harga energi serta kenaikan biaya transportasi.
TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga menembus 100 dolar AS atau sekitar Rp 1,6 juta per barel jika Selat Hormuz, masih tetap ditutup akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Peringatan tersebut disampaikan langsung oleh bank investasi global Goldman Sachs yang menilai pasar energi global saat ini berada dalam kondisi sangat rentan.
Mengacu pada laman Oil Price, minyak mentah berjangka Brent melonjak 8,52 persen ke 92,69 dolar AS per barel. Sementara, harga minyak mentah berjangka WTI AS tembus 90,90 dolar AS usai naik 12,2 persen.
Namun analis Goldman Sachs memprediksi harga minyak dunia akan terus merangkak naik bahkan berisiko melampaui angka psikologis 100 dolar AS per barel, jika gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz berlanjut hingga pekan depan.
Dalam laporan riset terbarunya, Goldman Sachs menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak terutama dipicu oleh gangguan pasokan energi buntut ketegangan militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Konflik bermula pada 28 Februari 2026 ketika Israel, dengan dukungan militer Amerika Serikat, melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran.
Operasi militer tersebut menargetkan berbagai kota penting seperti Teheran, Isfahan, dan Qom dengan ratusan pesawat tempur dan rudal jelajah.
Israel berasalasan serangan dilancarkan karena Iran tidak menunjukkan itikad cukup untuk memenuhi tuntutan utama Washington, terutama terkait penghentian total pengayaan uranium.
Sebaliknya, Iran tetap bersikukuh bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kebutuhan energi sipil dan menolak tuntutan penghentian total sebagai syarat yang berlebihan.
Sebagai balasan, Iran segera melancarkan serangan balik menggunakan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Ketegangan militer kemudian meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih besar.
Faktor utama yang menjadi perhatian pasar adalah kondisi di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Baca juga: Filipina Ambil Langkah Darurat, Terapkan Sistem Kerja 4 Hari Kerja Buntut Perang Iran vs AS-Israel
Di tengah meningkatnya konfrontasi militer, Iran mengambil langkah strategis dengan menekan jalur perdagangan energi global.
Pasukan elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal komersial agar tidak melintas di Selat Hormuz.
Jalur ini dikenal sebagai salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global dikirim melalui selat tersebut setiap harinya.