Iran Vs Amerika Memanas
Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Kekayaan dan Propertinya Jadi Sorotan
Mojtaba Khamenei resmi jadi Pemimpin Tertinggi Iran. Laporan kekayaan dan properti globalnya jadi sorotan di tengah sanksi AS dan tekanan ekonomi.
Ringkasan Berita:
- Mojtaba Khamenei resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Iran setelah ditunjuk Majelis Ahli pada 9 Maret 2026, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
- Laporan investigasi Bloomberg menyebut Mojtaba diduga memiliki kekayaan lebih dari 100 juta dolar AS, dengan jaringan aset global seperti properti di Inggris, Dubai, Frankfurt, dan Mallorca.
- Kekayaan tersebut menjadi kontroversi karena Mojtaba telah dijatuhi sanksi oleh United States Department of the Treasury sejak 2019.
TRIBUNNEWS.COM - Majelis Ahli Iran resmi menujuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei, pada Senin (9/3/2026).
Seiring peran barunya memimpin negara, perhatian publik juga tertuju pada laporan mengenai kekayaan dan jaringan properti internasional yang diduga dimilikinya.
Menurut investigasi Bloomberg yang mengutip sumber anonim dan laporan badan intelijen Barat, Mojtaba Khamenei memiliki kekayaan yang diperkirakan lebih dari 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,69 triliun (Kurs Rp 16.985).
Dana tersebut diduga berasal dari penjualan minyak Iran yang kemudian disalurkan ke berbagai investasi internasional, termasuk real estat mewah di Inggris senilai lebih dari 138 juta dolar AS (sekitar Rp2,34 triliun).
Kemudian satu aset di London yang dibeli pada 2014 seharga 33,7 juta poundsterling (sekitar Rp690 miliar).
Selain itu, ia memiliki vila mewah di Dubai dan hotel di kota-kota Eropa seperti Frankfurt, Jerman, dan Mallorca, Spanyol.
Dana untuk pembelian aset-aset ini dikirim melalui rekening di Inggris, Swiss, Liechtenstein, dan Uni Emirat Arab.
Sanksi AS 2019 dan Kontroversi Investasi Internasional
Nama Mojtaba Khamenei sendiri bukan sosok asing dalam daftar sanksi Amerika Serikat. Putra dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tersebut telah dijatuhi sanksi oleh United States Department of the Treasury pada 2019.
Washington menuduhnya memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran serta terlibat dalam jaringan yang mengendalikan sumber daya ekonomi negara.
Dalam laporan Bloomberg disebutkan bahwa sebagian kekayaan yang dikaitkan dengan lingkaran kekuasaan Iran berasal dari pendapatan minyak. Hal ini menjadi sensitif karena minyak merupakan sumber utama pendapatan negara Iran.
Jika dana dari sektor tersebut diduga mengalir ke lingkaran elite kekuasaan, maka hal itu menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi pengelolaan kekayaan negara.
Baca juga: Israel Pernah Peringatkan Pemimpin Baru Iran Akan Jadi Target Pembunuhan: Tak Peduli Dia Bersembunyi
Isu tersebut semakin mendapat perhatian karena terjadi ketika rakyat Iran menghadapi tekanan ekonomi yang berat.
Sanksi internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat telah membatasi ekspor minyak Iran selama bertahun-tahun, memicu inflasi tinggi, melemahnya mata uang, serta meningkatnya biaya hidup.
Di tengah situasi itu, protes sosial beberapa kali muncul di berbagai kota di Iran. Banyak demonstran menyoroti kesenjangan antara elite politik dan kondisi ekonomi masyarakat. Karena itu, laporan mengenai sumber kekayaan dari penjualan minyak menjadi isu yang sensitif secara politik.
Pengamat menilai, jika benar sebagian dana elite berasal dari sektor minyak negara, hal tersebut berpotensi mempengaruhi citra kepemimpinan Iran.