Iran Vs Amerika Memanas
Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Pengamat: Iran Memilih Pertahankan Rezim
Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi menanggapi soal Mojtaba Khamenei yang jadi pemimpin tertinggi Iran, menggantikan Ayatollah Ali Khamenei.
Ringkasan Berita:
- Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi menanggapi soal Mojtaba Khamenei yang jadi pemimpin tertinggi Iran.
- Mojtaba Khamenei jadi pemimpin tertinggi Iran yang baru, untuk menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
- Kini setelah Mojtaba Khamenei menjadi pimpinan tertinggi Iran yang baru, Hasibullah melihat bahwa rakyat Iran lebih memilih mempertahankan rezim dan memperbaharui semangat revolusi Islam Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi memberikan tanggapannya terkait terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Ayatollah Ali Khamenei diketahui tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
Menurut Hasibullah, terdapat dua skenario dibalik serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Skenario pertama, serangan tersebut merupakan bagian dari skenario penggantian rezim yang diinginkan oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Skenario kedua, Hasibullah melihatnya sebagai pengukuhan rezim atau pembaharuan revolusi Islam Iran.
"Saya ingin memaknainya secara politik. Nah, ini yang selalu saya sampaikan berkali-kali bahwa masa depan Iran atau skenario Iran setelah serangan 28 Februari itu tidak terlepas dari dua."
"Yaitu di antara skenario penggantian rezim yang diinginkan oleh Trump dan Netanyahu, atau justru pengukuhan rezim atau pembaharuan revolusi Islam Iran," kata Hasibullah dalam Breaking News Kompas TV, Senin (9/3/2026).
Kini setelah Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan dan Mojtaba Khamenei terpilih menjadi pimpinan tertinggi Iran yang baru, Hasibullah melihat bahwa rakyat Iran lebih memilih skenario kedua.
Rakyat Iran lebih memilih mempertahankan rezim dan memperbaharui semangat revolusi Islam Iran.
"Nah, pengumuman atau pemilihan daripada Ayatollah Mojtaba Khamenei ini, ini menjadi indikasi yang sangat yang sangat kuat dari dari rakyat Iran, dari bangsa Iran bahwa mereka lebih memilih skenario yang kedua."
"Yaitu skenario mempertahankan rezim, memperbaharui semangat revolusi Islam Iran. Karena itu yang dipilih adalah Mojtaba Khamenei," jelas Hasibullah.
Baca juga: Pengamat Ungkap Hal Mendesak yang Harus Dibenahi Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei
Hasibullah menambahkan, sebenarnya ada beberapa kandidat selain Mojtaba Khamenei yang bisa menggantikan Ayatollah Ali Khamenei.
Di antaranya ada Hassan Khomeini, cucu dari Imam Khomeini, sosok mantan pemimpin tertinggi Iran yang juga memimpin revolusi Iran.
Menurut Hasibullah, sosok Hassan Khomeini ini lebih terbuka, termasuk dengan Barat, serta lebih reformis.
"Kita tahu dari beberapa kandidat yang beredar sebenarnya ada banyak. Minimalnya ada yang jauh lebih
akomodatif, yang jauh lebih katakanlah lebih terbuka termasuk dengan Barat."
Baca juga: Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Kekayaan dan Propertinya Jadi Sorotan
"Nah, salah satu yang mengemuka dari sisi ini adalah cucu daripada Imam Khomeini yaitu Hassan Khomeini yang dikenal lebih lebih reformis," ungkap Hasibullah.
Meski demikian, majelis pakar Iran yang terdiri dari 88 ulama ini telah menentukan pilihan mereka, yakni memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.
"Tapi sekali lagi kalau kita bicara demokrasi, kita konsisten dengan nilai kedaulatan bangsa-bangsa, maka masyarakat Iran punya hak untuk memilih siapa pemimpinnya."
"Dan sekarang melalui majelis pakar yang terdiri dari 88 orang yang dipilih adalah justru sosok Mojtaba Khamenei," pungkasnya.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Meroket, Naik 108 Dolar AS usai Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Baru Iran
Ulama Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Baru Pengganti Ali Khamenei
Majelis Pakar Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei.
Kabar tersebut dikonfirmasi media Iran Tasnimnews.ir.
Majelis Pakar memilih Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam ketiga.
Penunjukkan Mojtaba Khamenei dilakukan setelah sembilan hari kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan Amerika Serikat-Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026.
Dilansir dari Aljazeera, Mojtaba Khamenei tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum.
Tetapi selama beberapa dekade telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam pemimpin tertinggi Iran serta membina hubungan yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dalam beberapa tahun terakhir, ia semakin sering disebut-sebut sebagai calon pengganti utama ayahnya.
Baca juga: Trump Tantang Pemimpin Baru Iran, Analis Sebut Rekam di Balik Layar Mojtaba Khamenei
Mohammad Mehdi Mirbagheri, tokoh terkemuka di Majelis Pakar mengatakan penunjukkan pengganti Ali Khamenei dilakukan secara hati-hati agar tidak ada penolakan di internal mereka.
Majelis Pakar yang beranggotakan 88 orang saat ini berembuk untuk menentukan nama pengganti Ali Khamenei.
“Suatu pendapat yang hampir pasti telah tercapai. Mayoritas yang signifikan telah terbentuk,” kata kepala Akademi Ilmu Islam Qom dalam sebuah video yang dirilis pada hari Minggu oleh kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sementara itu, Pemimpin Muslim ultra-konservatif terkemuka yang mewakili kota suci Syiah Mashhad di Majelis Pakar, Ahmad Alamolhoda, mengatakan pada Minggu (8/3/2026) pemimpin telah dipilih dan sekretariat Majelis Pakar harus segera mengumumkan hasilnya.
"Pemilihan pemimpin telah berlangsung dan pemimpin telah ditentukan. Semua rumor bahwa Majelis Pakar belum mengambil keputusan adalah kebohongan belaka. Semuanya sekarang bergantung pada sekretaris Majelis Pakar, Ayatollah Hosseini Bushehri, yang berkewajiban untuk mengumumkan keputusan Majelis kepada publik," ujar Ahmad Alamolhoda.
Badan yang beranggotakan 88 orang tersebut memiliki wewenang untuk menunjuk pemimpin baru Iran.
Berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran, apabila pemimpin tertinggi Iran wafat atau tak lagi mampu memimpin, para ahli harus menunjuk pemimpin baru sesegera mungkin.
Baca juga: Balas Dendam Nyawa Orang Tercinta, Mojtaba Khamenei Pimpin Iran Lebih Keras ke AS-Israel
Profil Mojtaba Khamenei
Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei merupakan ulama asal Iran. Ia adalah putra kedua dari Ali Khamenei.
Mojtaba Khamenei lahir di kota Mashhad,Iran pada 8 September 1969.
Nama Mojtaba Khamenei menjadi sorotan ketika kerusuhan terjadi dalam unjuk rasa yang terjadi dalam sengketa pemilihan umum Presiden Iran 2019. Ia diyakini bertanggungjawab atas kerusuhan itu.
Ia disebut-sebut pernah mengambil alih kendali Basij yang digunakan untuk menekan protes atas pemilihan presiden 2009.
Perjalanan Karier Mojtaba Khamenei
Ia menerima pendidikan awal di Sardasht dan Mahabad dan lulus SMA dari Teheran.
Setelah itu, ia mempelajari teologi Islam di bawah bimbingan ayahnya dan Mahmoud Hashemi Shahroudi.
Ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada tahun 1987 dan bertugas dalam Perang Iran-Irak.
Pada tahun 1999, ia melanjutkan studinya di Qom untuk menjadi seorang ulama, dan kemudian bergabung dengan Seminari Qom sebagai guru teologi.
Baca juga: IRGC Siap Terima Perintah dari Mojtaba Khamenei, Militer Iran Nyatakan Setia
Status Keulamaan Mojtaba
Dari sisi keagamaan, Mojtaba Khamenei saat ini menyandang gelar hojatoleslam, yaitu tingkat ulama menengah dalam hierarki ulama Syiah.
Status ini sempat menimbulkan perdebatan karena posisi pemimpin tertinggi Iran biasanya dipegang oleh ulama dengan gelar Ayatollah yang lebih tinggi.
Mojtaba Khamenei sendiri jarang tampil di depan publik dan hampir tidak pernah memberikan pidato politik atau khutbah terbuka.
Bahkan banyak warga Iran yang mengaku belum pernah mendengar langsung suaranya meski namanya sering disebut dalam lingkaran kekuasaan.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Adi Suhendi)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.