Jumat, 17 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Harga Minyak Dunia Meroket, Naik 108 Dolar AS usai Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Baru Iran

Harga minyak dunia melonjak hingga 108 dolar per barel setelah Iran angkat Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru, picu ketegangan pasar global.

Ringkasan Berita:
  • Harga minyak dunia naik hingga 108 dolar per barel setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru. 
  • Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian politik, dan risiko gangguan pasokan melalui Strait of Hormuz.
  • Harrga tinggi menekan laba perusahaan dan memicu volatilitas saham. Investor melakukan hedging untuk melindungi risiko energi, sementara nilai mata uang negara importir tertekan. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian ekonomi.

TRIBUNNEWS.COM – Pasar energi kembali bergejolak usai minyak dunia melonjak tajam hingga menembus 105 dolar AS per barel setelah Iran mengumumkan pemimpin tertinggi baru di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.

Data pasar yang dikutip The Guardian, Harga minyak Brent melonjak 17 persen menjadi 108,77 dolar AS per barel. Kenaikan ini menjadi lonjakan harian terbesar sejak awal pandemi pada 2020.

Sementara itu, minyak mentah AS naik 18 persen menjadi 107,56 dolar AS per barel, yang berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar dalam waktu cepat.

Adapun lonjakan terjadi saat pasar energi global merespons perubahan kepemimpinan di Teheran, lantaran investor khawatir terhadap stabilitas kawasan setelah Mojtaba Khamenei putra kedua dari Ali Khamenei resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.

Mojtaba dipilih menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 1 Maret lalu.

Perubahan kepemimpinan tersebut langsung memicu gejolak di pasar energi global karena Iran merupakan salah satu aktor penting dalam geopolitik minyak dunia.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei dipandang investor sebagai faktor baru yang dapat memperpanjang ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat.

Sebagai ulama yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), kepemimpinannya dinilai berpotensi mempertahankan sikap keras Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Bagi pelaku pasar, kondisi tersebut meningkatkan risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah. 

Investor dan pedagang minyak mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan lebih lanjut terhadap produksi maupun distribusi minyak global.

Ketidakpastian politik ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.

Ketegangan di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan

Baca juga: Trump Tantang Pemimpin Baru Iran, Analis Sebut Rekam di Balik Layar Mojtaba Khamenei

Selain perubahan kepemimpinan Iran, lonjakan harga minyak juga dipicu oleh situasi di Strait of Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu titik terpenting dalam perdagangan energi dunia.

Konflik bermula pada 28 Februari 2026 ketika Israel, dengan dukungan militer Amerika Serikat, melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran.

Operasi militer tersebut menargetkan berbagai kota penting seperti Teheran, Isfahan, dan Qom dengan ratusan pesawat tempur dan rudal jelajah.

Israel berasalasan serangan dilancarkan karena Iran tidak menunjukkan itikad cukup untuk memenuhi tuntutan utama Washington, terutama terkait penghentian total pengayaan uranium.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved