Iran Vs Amerika Memanas
Iran Peringatkan Amerika–Israel, Harga Minyak Bisa Melonjak hingga 200 Dollar AS per Barrel
Ketegangan Iran–AS–Israel memicu lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar per barel dan mengguncang pasar global hingga rupiah melemah.
Gangguan pasokan ini mulai dirasakan langsung oleh konsumen. Harga bensin ritel di Amerika Serikat kini telah melampaui rata-rata nasional 3,45 dolar per galon.
Analis dari GasBuddy, Patrick De Haan, bahkan memperkirakan peluang harga bensin nasional mencapai 4 dolar per galon dalam sebulan ke depan mencapai 80 persen.
Di tengah kenaikan harga energi, Donald Trump menyatakan dirinya tidak khawatir terhadap lonjakan harga minyak.
Presiden AS itu mengatakan harga energi akan turun dengan cepat setelah konflik berakhir dan menyebut kenaikan harga sebagai “harga kecil yang harus dibayar demi keamanan dan perdamaian dunia”.
Sementara itu, pemimpin minoritas Senat AS Chuck Schumer mendesak pemerintah untuk menggunakan Strategic Petroleum Reserve guna menstabilkan pasar energi.
Pemerintah AS juga berupaya membuka kembali jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan proses tersebut bisa memakan waktu satu hingga dua minggu sebelum kapal tanker kembali beroperasi normal.
Konflik yang dimulai setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari kini tidak hanya memicu ketegangan militer, tetapi juga mengancam stabilitas pasar energi dan ekonomi global.
Baca juga: Bursa Saham Dunia Anjlok, Harga Minyak Meroket, Pasar Khawatirkan Pasokan
Dampak Bagi Indonesia
Lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan dampak langsung terhadap pasar keuangan Indonesia.
Nilai tukar rupiah hampir menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hampir 5 persen pada perdagangan Senin (9/3/2026).
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan gejolak pasar dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan tajam harga energi global.
“Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan melemah. Bahkan IHSG sempat turun sekitar 5 persen, sementara rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS,” ujar Ibrahim kepada wartawan.
Menurutnya, tekanan terhadap pasar keuangan domestik terjadi karena kombinasi faktor eksternal dan kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi global dari konflik tersebut.
Kondisi ini semakin berat karena harga minyak mentah dunia, baik Crude Oil maupun Brent Crude, telah menembus level psikologis 100 dolar AS per barel.
Bahkan dalam perdagangan terbaru, harga minyak sempat berada di kisaran 117 dolar AS per barel.