Selasa, 2 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Peringatkan Amerika–Israel, Harga Minyak Bisa Melonjak hingga 200 Dollar AS per Barrel

Ketegangan Iran–AS–Israel memicu lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar per barel dan mengguncang pasar global hingga rupiah melemah.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah, termasuk target di Israel serta beberapa negara di Timur Tengah yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Jika konflik terus meluas dan menyasar fasilitas energi regional, para analis memperingatkan dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga dapat mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Sentuh 113 Dolar AS per Barel, Berikut Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina 

 

Harga Minyak Tembus 100 Dolar untuk Pertama Kali Sejak Juli 2022

Harga minyak dunia melonjak tajam dan menembus 100 dolar per barel pada Minggu (9/3/2026), untuk pertama kalinya sejak Juli 2022.

Lonjakan ini terjadi di tengah dampak meluas dari konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mengguncang pasar energi global.

Harga kontrak minyak mentah AS bahkan melonjak lebih dari 25 persen dan sempat mendekati 115 dolar per barel.

Sementara itu, minyak acuan internasional Brent Crude juga naik lebih dari 20 persen hingga menyentuh sekitar 110 dolar per barel sebelum akhirnya sedikit terkoreksi pada perdagangan awal Senin.

Lonjakan harga energi ini turut mengguncang pasar saham global. Kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 2,3 persen, sementara Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 1.000 poin.

Indeks Nasdaq 100 juga merosot sekitar 2,7 persen, menandakan pasar saham Amerika Serikat diperkirakan melanjutkan tren penurunan pekan lalu.

Dampak negatif juga terasa di Asia. Indeks Kospi di Korea Selatan ditutup merosot hampir 6 persen, sementara Nikkei 225 Jepang turun sekitar 5,2 persen.

Pasar Australia melalui ASX 200 juga ditutup melemah 2,85 persen, sedangkan pasar saham China mengalami penurunan lebih kecil.

Di Eropa, kontrak berjangka DAX Jerman diperkirakan turun lebih dari 3 persen. Indeks FTSE 100 Inggris diprediksi melemah sekitar 2 persen, sementara indeks pan-Eropa STOXX Europe 600 sempat jatuh ke titik terendah dalam dua bulan terakhir.

Krisis energi ini diperparah oleh gangguan produksi di Timur Tengah.

Perusahaan minyak negara Kuwait Petroleum Corporation dilaporkan memangkas produksi, sementara perusahaan minyak milik Uni Emirat Arab juga mengisyaratkan pengelolaan ulang produksi yang berpotensi menurunkan pasokan.

Situasi semakin rumit karena jalur distribusi energi global terganggu. Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dunia di dekat Iran, saat ini hampir tidak bisa dilalui oleh kapal tanker akibat eskalasi konflik.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved