Rabu, 6 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Korea Utara Komentari Perang Iran, Dukung Mojtaba Khamenei dan Kutuk Serangan AS-Israel ke Teheran

Korea Utara menyatakan dukungan atas penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dan mengecam serangan AS-Israel.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Hubungan antara Pyongyang dan Teheran kembali disorot.
  • Korea Utara menyatakan menghormati keputusan Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru.
  • Pyongyang juga mengecam serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang disebut sebagai agresi ilegal terhadap Iran.

 

TRIBUNNEWS.COM - Hubungan antara Korea Utara dan Iran kembali disorot.

Pemerintah Korea Utara menyatakan menghormati keputusan Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut.

Pyongyang juga mengecam keras serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Dilansir dari Al Jazeera, Rabu (11/3/2026), pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara melalui laporan Kantor Berita Pusat Korea atau Korean Central News Agency (KCNA).

Juru bicara tersebut mengatakan Pyongyang menghormati keputusan rakyat Iran setelah Majelis Pakar memilih Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari lalu.

“Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran untuk memilih pemimpin tertinggi mereka,” kata juru bicara tersebut seperti dikutip KCNA.

Selain menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan baru Iran, Korea Utara juga mengutuk serangan militer yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran.

Menurut Pyongyang, serangan tersebut merusak fondasi perdamaian dan keamanan kawasan serta memperburuk ketidakstabilan global.

“Kami menyampaikan keprihatinan serius dan mengecam keras agresi Amerika Serikat dan Israel yang melancarkan serangan militer ilegal terhadap Iran,” ujar juru bicara tersebut.

Korea Utara juga menilai serangan tersebut melanggar sistem politik serta integritas wilayah Iran dan harus ditolak oleh masyarakat internasional.

Baca juga: Dubes Iran Untuk PBB: Israel Bunuh Empat Diplomat Senior di Hotel Ramada Beirut

Konflik di Timur Tengah sendiri semakin meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut memicu balasan dari Iran berupa peluncuran rudal dan drone ke wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.

Di tengah meningkatnya ketegangan global, hubungan antara Pyongyang dan Teheran juga kembali disorot.

Kedua negara selama beberapa dekade dikenal memiliki hubungan erat serta sama-sama menentang kebijakan Amerika Serikat.

Selain menyampaikan sikap politik terhadap konflik tersebut, media pemerintah Korea Utara juga melaporkan bahwa pemimpin negara itu, Kim Jong Un, baru-baru ini mengawasi uji coba rudal jelajah strategis dari kapal perusak angkatan laut terbaru Korea Utara, Choe Hyon.

Baca juga: Trump Isyaratkan Akhir Perang Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Terjun Bebas di Bawah 90 Dolar AS

Menurut laporan KCNA, Kim menegaskan pentingnya memperkuat kemampuan pencegah nuklir negaranya dengan mengembangkan sistem serangan strategis yang lebih kuat.

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi Korea Utara untuk mempertahankan kekuatan militernya di tengah meningkatnya ketegangan global dan konflik yang meluas di Timur Tengah.

Selain itu, selama beberapa tahun terakhir Amerika Serikat juga terus berupaya membatasi program nuklir Korea Utara melalui sanksi serta tekanan diplomatik, meskipun upaya tersebut dinilai belum banyak membuahkan hasil.

Situasi geopolitik yang semakin kompleks, termasuk perang di Timur Tengah, diperkirakan akan semakin memperkuat dinamika rivalitas global antara negara-negara besar dalam beberapa waktu ke depan.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved