Iran Vs Amerika Memanas
AS Serang Bertubi-tubi, tapi Iran Masih Kokoh! Intelijen AS Ungkap Fakta Mengejutkan
Intelijen AS menyebut Iran tetap kuat meski dibombardir 13 hari. Teheran juga ancam tutup Selat Hormuz yang bisa picu lonjakan harga minyak dunia.
Di tengah konflik yang memanas, Iran juga meningkatkan tekanan terhadap pasar energi dunia pemerintah Iran melalui militer elitnya mengeluarkan peringatan keras terkait jalur energi paling vital di dunia, yaitu Selat Hormuz.
Juru bicara militer Iran yang mewakili Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), menegaskan tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun melewati jalur tersebut bagi kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu keduanya.
Menurutnya, kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel akan diperlakukan sebagai target militer yang sah.
Pejabat tersebut juga memperingatkan bahwa upaya negara Barat untuk menurunkan harga minyak secara buatan tidak akan berhasil.
“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Bersiaplah melihat harga minyak mencapai 200 dolar AS per barel,” kata juru bicara tersebut, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Iran menilai ketidakstabilan keamanan di kawasan Timur Tengah tidak terlepas dari keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang terus berkembang di wilayah tersebut.
Menurut pejabat militer Iran, eskalasi ketegangan yang terjadi saat ini dipicu oleh serangkaian serangan dan operasi militer yang dilakukan oleh kedua negara terhadap target di Iran.
Situasi tersebut lantas memaksa Iran melakukan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah target yang dianggap berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Siklus serangan dan balasan inilah yang membuat ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat, tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran global.
Ini karena kawasan Teluk khususnya selat Hormuz merupakan salah satu perdagangan energi global dimana seperlima pasokan minyak dunia melewati wilayah tersebut setiap hari.
Jika jalur tersebut terganggu akibat konflik militer atau ancaman terhadap kapal-kapal tanker, distribusi minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak dapat terhambat. Kondisi ini berpotensi memicu penurunan pasokan di pasar global.
Itulah sebabnya pejabat Iran memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga menyentuh 200 dolar AS per barel apabila konflik regional terus meningkat dan keamanan jalur energi utama dunia tidak dapat dijamin.
(Tribunnews.com / Namira)