Iran Vs Amerika Memanas
Jerman Tolak Permintaan Trump Kirim Militer ke Selat Hormuz: Perang Iran-AS Bukan Perang NATO
Jerman menolak permintaan Donald Trump kirim militer ke Selat Hormuz, menegaskan perang Iran-AS bukan bagian dari misi NATO.
Ringkasan Berita:
- Jerman menolak permintaan Donald Trump untuk mengirim dukungan militer ke Selat Hormuz.
- Menurut pemerintah Jerman, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak terkait dengan misi NATO.
- Berlin menilai perang di Teluk Persia berisiko memicu krisis energi dan mengganggu ekonomi global, sehingga memilih tidak terlibat secara militer.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Jerman secara tegas menolak permintaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membantu mengamankan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara Kanselir Jerman, Stefan Kornelius, dalam konferensi pers di Berlin, Senin (16/3/2026).
Dalam pernyataanya, Kanselir Jerman secara tegas menyatakan bahwa konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan bagian dari misi aliansi pertahanan NATO, sehingga Jerman tidak akan mengirim dukungan militer ke kawasan tersebut.
“Perang ini tidak ada hubungannya dengan NATO. Ini bukan perang NATO. NATO adalah aliansi pertahanan yang bertugas melindungi wilayah anggotanya,” ujar Kornelius kepada wartawan.
Selain itu, Kornelius menyinggung bahwa Amerika Serikat dan Israel juga tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan sekutu Eropa sebelum melancarkan operasi militer terhadap Iran.
“Saya juga ingin mengingatkan bahwa AS dan Israel tidak berkonsultasi dengan kami sebelum perang dimulai. Bahkan Washington pada awal konflik mengatakan bantuan Eropa tidak diperlukan,” tambahnya.
Trump Tekan Sekutu NATO
Adapun penolakan ini dilontarkan Jerman setelah Trump memperingatkan sekutu NATO bahwa mereka bisa menghadapi “masa depan yang sangat buruk” apabila menolak membantu membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Menurut Trump, negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga keamanan wilayah tersebut.
Pada awal konflik, Kanselir Jerman Friedrich Merz sempat menunjukkan dukungan terhadap langkah Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi Iran.
Bahkan dalam pertemuan di Gedung Putih, Merz dilaporkan menyatakan kesamaan pandangan dengan Trump mengenai perlunya perubahan politik di Iran.
Baca juga: Trump Salah Perhitungan, Ini Alasan-Alasan Kenapa Perang Iran akan Berlangsung Panjang
Namun, seiring berjalannya waktu, sikap pemerintah Jerman mulai berubah. Berlin kini semakin vokal menyuarakan kekhawatiran mengenai dampak konflik terhadap stabilitas kawasan serta perekonomian Eropa.
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Uni Eropa, Jerman menilai perang yang berkepanjangan di Teluk Persia dapat memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasokan global.
Selain menolak keterlibatan militer, pemerintah Jerman juga mulai mempertanyakan strategi jangka panjang Washington dalam konflik tersebut.
Kornelius menyatakan bahwa Berlin memang mendukung upaya menciptakan stabilitas politik di Iran. Namun, Jerman kini meragukan apakah pendekatan militer yang ditempuh oleh Amerika Serikat dan Israel merupakan cara yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut.
“Posisi kami tetap sama. Kami mendukung perubahan kondisi politik di Iran untuk menciptakan solusi damai di kawasan. Namun kami semakin mempertanyakan apakah jalan yang ditempuh saat ini merupakan cara yang benar untuk mencapainya,” ujar Kornelius dikutip dari Politico.