Kamis, 23 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ditinggal Sekutu, Trump Meradang: AS Tak Butuh NATO di Krisis Selat Hormuz

Trump meradang usai NATO menolak bantu amankan Selat Hormuz. Iran balas serangan, konflik kian memanas dan ancam stabilitas energi dunia.

Ringkasan Berita:
  • Donald Trump menyebut penolakan sekutu sebagai “kesalahan bodoh”, meski menegaskan AS tetap mampu mengamankan Selat Hormuz sendiri.
  • Negara-negara Eropa menolak terlibat perang dengan Iran dan memilih fokus pada diplomasi serta keamanan maritim terbatas.
  • Iran melancarkan serangan balasan dan menegaskan perang akan berlanjut, sehingga memperbesar risiko krisis global dan mengguncang stabilitas kawasan

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan keras terkait sikap negara-negara sekutu NATO yang menolak terlibat dalam pengamanan Selat Hormuz di tengah konflik bersenjata dengan Iran.

Dalam pernyataan yang dikutip dari BBC International, Trump menegaskan, AS tidak membutuhkan bantuan militer dari NATO, namun tetap menyayangkan ketidakhadiran sekutu dalam situasi krisis.

Menurutnya, penolakan tersebut sebagai “kesalahan bodoh”. ia juga menilai kondisi ini “tidak adil” bagi Amerika Serikat yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan aliansi.

Pernyataan ini muncul setelah arus perdagangan energi global terganggu, akibat Iran menutup Selat Hormuz jalur utama distribusi minyak dunia sejak awal Maret 2026 sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Dengan melibatkan sekutu, AS berupaya memastikan jalur tersebut tetap aman dan dapat dilalui kapal-kapal tanker.

Selain itu, langkah Trump juga bertujuan untuk membagi beban militer dengan negara-negara NATO. karena menurut Trump tanggung jawab menjaga stabilitas internasional seharusnya ditanggung bersama, bukan hanya oleh AS.

Eropa Pilih Menjauh

Namun, upaya ini menghadapi penolakan dari sejumlah negara Eropa yang enggan terlibat dalam konflik.

Menteri Luar Negeri Uni Eropa di Brussels, Kaja Kallas bahkan menegaskan Eropa tidak ingin terlibat dalam konflik yang berlarut-larut.

Ia menyebut perang melawan Iran bukanlah “perangnya Eropa” dan menekankan bahwa tidak ada keinginan dari negara anggota untuk memperluas keterlibatan militer ke Selat Hormuz.

Uni Eropa, lanjut Kallas, lebih memilih fokus pada penguatan keamanan maritim terbatas serta upaya diplomasi. Ia juga menegaskan bahwa misi yang sudah berjalan, seperti Operasi Aspides di Laut Merah, tidak akan diperluas ke wilayah konflik baru.

Penolakan serupa juga datang dari Jerman. Kanselir Friedrich Merz menegaskan bahwa Berlin tidak akan mengirimkan pasukan ke kawasan Teluk dan menyerukan penyelesaian politik secepat mungkin.

Sementara itu, Inggris melalui Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan tidak akan terseret ke dalam konflik yang lebih luas. 

Sikap ini diikuti oleh Polandia dan Belgia yang juga menolak permintaan AS untuk mengerahkan kekuatan militer mereka.

Baca juga: Kota Rudal Bawah Tanah Iran di Pulau Qeshm Terungkap, Dunia Khawatir Jalur Energi Lumpuh

Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski bahkan mengkritik pendekatan Trump yang dinilai memposisikan NATO seolah terpisah dari Amerika Serikat.

Adapun Menteri Belgia Bart De Wever menegaskan negaranya tidak akan bergabung dalam operasi militer bersama AS dan Israel.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved