Iran Vs Amerika Memanas
Pasca-Kematian Ali Khamenei, Ulama Senior Iran Serukan Jihad Lawan AS dan Israel
Ulama paling berpengaruh di Iran, Ayatollah Agung Naser Makarem Shirazi menyerukan komando jihad global untuk melawan AS dan Israel.
Ringkasan Berita:
- Pasca kematian Ali Khamenei, ulama paling berpengaruh di Iran, Ayatollah Agung Naser Makarem Shirazi menyerukan komando jihad global.
- Makarem Shirazi menegaskan bahwa membalas kematian Khamenei bukan lagi sekadar urusan politik, melainkan kewajiban suci atau fardhu ain bagi umat Muslim di seluruh dunia.
- Tewasnya Khamenei dianggap sebagai titik nadir dalam hubungan diplomatik di kawasan tersebut, yang kini berada di ambang perang terbuka.
TRIBUNNEWS.COM - Tokoh agama paling berpengaruh di Iran, Ayatollah Agung Naser Makarem Shirazi resmi menyerukan komando jihad global.
Seruan itu muncul pasca kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 lalu.
Makarem Shirazi menegaskan bahwa membalas kematian Khamenei bukan lagi sekadar urusan politik, melainkan kewajiban suci atau fardhu ain bagi umat Muslim di seluruh dunia.
"Musuh harus dibuat menyesali perbuatan dan kata-kata mereka," tegas Makarem Shirazi, mengutip WANA.
Langkah drastis ini diambil setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran sejak akhir Februari lalu.
Tewasnya Khamenei dianggap sebagai titik nadir dalam hubungan diplomatik di kawasan tersebut, yang kini berada di ambang perang terbuka.
Para pengamat menilai maklumat jihad dari Makarem Shirazi ini bisa menjadi pematik bagi kelompok-kelompok pro-Iran di Lebanon, Irak, hingga Yaman untuk melancarkan serangan balasan yang lebih masif.
Sebelumnya, para pengamat juga telah memperingatkan atas tindakan Israel yang membunuh para pemimpin di Iran.
Dalam waktu singkat, serangkaian serangan presisi telah menewaskan tokoh-tokoh penting yang menjadi jembatan antara Iran dengan kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.
Bagi Israel, ini adalah pesan tegas bahwa tidak ada tempat yang aman bagi musuh-musuh mereka.
Langkah ini dianggap perlu untuk memutus rantai komando dan logistik yang selama ini menyokong perlawanan terhadap Tel Aviv.
Baca juga: Netanyahu Ngaku Main Sendiri saat Serang Ladang Gas Iran, Bawa-bawa Nama Trump
Meski terlihat sukses di permukaan, banyak ahli internasional yang mulai waswas.
Strategi "pembunuhan terarah" ini dinilai seperti pedang bermata dua.
"Menghabisi seorang pemimpin mungkin memberikan kemenangan taktis sesaat, tapi secara strategis, ini bisa memicu eskalasi yang tidak terkendali," ungkap Ketua Keamanan Global dan Geostrategi di Pusat Studi Strategis dan Internasional, Jon Alterman kepada AP News.
Ada kekhawatiran bahwa Iran, yang merasa terpojok, akan mengambil langkah ekstrem.