Mengenal Pearl Harbor yang Disinggung Donald Trump saat Bertemu PM Jepang
Donald Trump singgung Serangan Pearl Harbor saat bahas serangan Iran, picu sorotan global dan polemik diplomatik
Ringkasan Berita:
- Donald Trump menjadi sorotan usai menyinggung Serangan Pearl Harbor saat menjelaskan strategi kejutan dalam serangan ke Iran.
- Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Sanae Takaichi dan memicu perhatian publik global.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah menyinggung peristiwa serangan Pearl Harbor dalam pertemuan resmi dengan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Gedung Putih, Kamis (19/3/2026) waktu setempat.
Pernyataan itu muncul saat Trump menjawab pertanyaan wartawan terkait alasan Amerika Serikat tidak memberi tahu Jepang maupun sekutu lainnya sebelum melancarkan serangan ke Iran bersama Israel.
“Kami melakukan serangan dengan sangat keras dan tidak memberi tahu siapa pun karena kami ingin kejutan. Siapa yang lebih paham soal kejutan selain Jepang? Kenapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor?” ujar Trump.
Ia kembali menegaskan bahwa unsur kejutan menjadi kunci keberhasilan awal operasi militer yang dilancarkan sejak akhir bulan lalu.
Serangan tersebut merupakan bagian dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Trump mengklaim bahwa dalam dua hari pertama operasi, pihaknya berhasil melumpuhkan lebih dari 50 persen target yang telah ditentukan.
“Jika kami memberi tahu semua orang sebelumnya, maka tidak akan ada lagi unsur kejutan,” katanya.
Pernyataan Trump tersebut sempat memancing tawa ringan di ruang Oval Office yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta delegasi Jepang.
Sebagai catatan sejarah, serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 1941 menjadi pemicu keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II.
Meski pernah berada di pihak berseberangan, kedua negara kemudian menandatangani perjanjian damai pada 1951 dan kini menjadi sekutu dekat.
Dalam pernyataan lainnya, Trump juga menyinggung serangan terhadap Pulau Kharg, wilayah strategis Iran yang menjadi pusat infrastruktur minyak.
Ia bahkan sempat berkelakar bahwa serangan tambahan mungkin dilakukan.
Selain itu, Trump mengonfirmasi rencana Departemen Pertahanan AS untuk mengajukan anggaran sebesar 200 miliar dolar AS ke Kongres guna mendukung operasi militer, tidak hanya terkait Iran tetapi juga kebutuhan pertahanan secara umum.
Konflik ini juga berdampak pada pasar energi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menyebabkan harga minyak dunia meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, Trump menilai dampaknya terhadap ekonomi belum separah yang diperkirakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-bertemu-Sanae-Takaichi-di-Gedung-Putih.jpg)