Iran Vs Amerika Memanas
Gambaran Perayaan Lebaran dan Tahun Baru Persia di Iran dalam Suasana Perang
Pertama kali dalam tiga dekade, Rakyat Iran merayakan dua perayaan besar dalam satu momen, yakni Idul Fitri dan Nowruz atau Tahun Baru Persia.
"Berbeda dengan di Indonesia, gema takbir tidak berkumandang di lingkungan warga. Di sini, masjid tidak diizinkan menggunakan pengeras suara luar meskipun 98 persen populasinya Muslim," ujar Syahrul seperti dikutip dari Muhammadiyah.or.id.
Ia juga menambahkan bahwa berdasarkan pedoman keagamaan mengenai jarak, Salat Id maupun salat Jumat hanya dilakukan di satu lokasi utama per kota.
Hal ini membuat suasana Lebaran terasa lebih terpusat dan sunyi di level pemukiman, kontras dengan keriuhan takbiran yang biasa kita jumpai di Indonesia.
Layanan Publik diupayakan tetap berjalan
Meski dalam suasana perang, laporan Tehran Times, menunjukkan bahwa pemerintah kota Teheran berupaya agar kehidupan masyarakat tetap berjalan senormal mungkin.
Kereta bawah tanah dan bus BRT beroperasi 24 jam secara gratis. Sekitar 32 stasiun kereta bawah tanah juga telah dialihfungsikan menjadi bungker perlindungan bagi warga.
Lebih dari 1.000 keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan udara Amerika Serikat-Israel, telah ditampung di tempat penampungan darurat.
Sebanyak 900 tim teknis disiagakan untuk memperbaiki jaringan air, listrik, dan gas yang rusak akibat serangan dalam waktu sesingkat mungkin.
Dalam situasi perang, juga terjadi kenaikan 49 persen jumlah pendonor darah di Teheran, guna membantu warga yang terluka akibat serangan udara AS-Israel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Bendera-Iran-32039.jpg)