Iran Vs Amerika Memanas
Gambaran Perayaan Lebaran dan Tahun Baru Persia di Iran dalam Suasana Perang
Pertama kali dalam tiga dekade, Rakyat Iran merayakan dua perayaan besar dalam satu momen, yakni Idul Fitri dan Nowruz atau Tahun Baru Persia.
Ringkasan Berita:
- Nowruz atau Tahun Baru Persia jatuh pada 20 Maret 2026. Sementara Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026. Ini adalah momen langka
- Perang membuat suasana dua perayaan tersebut berbeda dari tahun-tahun sebelumnya
- Suasana ibadah Idul Fitri di Iran memiliki corak yang sangat berbeda dibandingkan di Indonesia
TRIBUNNEWS.COM - Untuk pertama kali dalam tiga dekade terakhir, perayaan Nowruz (Tahun Baru Persia) jatuh nyaris berbarengan dengan Idul Fitri atau Lebaran.
Nowruz jatuh pada 20 Maret 2026. Sedangkan Lebaran jatuh pada 21-22 Maret 2026.
Alih-alih perayaan yang meriah, warga Teheran, Iran, harus merayakannya dalam suasana waspada pada penghujung pekan ketiga perang antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel.
Koresponden PBS News, Reza Sayah, melaporkan dari Teheran mengenai atmosfer kota terkini, seiring dua perayaan besar tersebut.
Baca juga: Tak Mampu Buka Selat Hormuz, Amerika Mau Kuasai Pulau Kharg Iran: Jadi Kuburan Ribuan Marinir AS?
Menurut Sayah, dua perayaan dalam satu momen adalah kesempatan langka.
"Ini adalah hari raya di mana biasanya keluarga berkumpul dengan pakaian musim semi mereka, bertukar hadiah, dan menikmati pesta dan perayaan bersama," katanya seperti dikutip PBS News.
Namun, lanjut dia, perang membuat keadaannya berbeda.
"Saya pikir banyak orang akan berusaha merayakan Hari Raya bersama keluarga di rumah. Tapi begitu banyak orang khawatir tentang perang ini, akan sangat sulit merayakannya," ucapnya lagi.
Apalagi tidak sedikit pejabat tinggi Iran terbunuh dalam serangan AS-Israel. Sebut saja Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib, Sekretaris Dewan Keamanan Iran Ali Larijani, dan Komandan Militer IRGC Ali Shadmani. Termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di hari pertama perang.
Sementara, laporan Al Jazeera menyebutkan krisis ekonomi yang terjadi sebelum perang membuat warga Iran sulit menjangkau kebutuhan pokok untuk Hari Raya.
Pasar tradisional Grand Bazaar Teheran, yang biasanya menjadi pusat belanja baju baru dan hidangan pesta, kini rusak akibat pengeboman, menjadikannya tempat yang berbahaya untuk dikunjungi.
Masih menurut laporan itu, kelompok anti-pemerintah cenderung lebih memilih merayakan Nowruz yang bersifat kultural. Mereka menghindari perayaan Idul Fitri karena menganggap simbol religiusitas yang identik dengan dukungan terhadap Pemerintah Republik Islam Iran.
Info lainnya, suasana ibadah Idul Fitri di Iran memiliki corak yang sangat berbeda dibandingkan di Indonesia.
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Iran, Syahrul Ramadhan, menjelaskan bahwa tradisi Lebaran di sana jauh lebih tenang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Bendera-Iran-32039.jpg)