Iran Vs Amerika Memanas
AS dan Iran Saling Ancam soal Selat Hormuz, Pakar: Berbahaya bagi Dunia
Pengamat Intelijen dan Keamanan dari UI Stanislaus Riyanta mengomentari kondisi terkini perang antara AS-Israel dengan Iran
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran.
- Menanggapi ultimatum Trump, militer Iran mengancam akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi, dan desalinasi milik AS di kawasan tersebut.
- Situasi ini ditanggapi oleh pengamat Intelijen dan Keamanan dari Universitas Indonesia (UI) Stanislaus Riyanta.
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat intelijen dan keamanan dari Universitas Indonesia (UI), Stanislaus Riyanta mengomentari kondisi terkini perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran.
Jalur sempit tersebut mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Menanggapi ultimatum Trump, militer Iran mengancam akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi, dan desalinasi milik AS di kawasan tersebut.
Menurut Stanislaus, Iran merupakan negara yang tidak mudah diancam. Ia menjelaskan bahwa model perang yang dilakukan Iran adalah perang asimetris, bukan hanya perang senjata dengan senjata.
"Jadi menggunakan unsur-unsur lain yang dampaknya lebih besar daripada senjata, termasuk menggunakan kekuatan Selat Hormuz ini untuk mengacaukan ekonomi dunia," ucapnya dalam acara Kompas Petang di Kompas TV, Senin (23/3/2026).
Jika Iran bersikukuh dengan sikapnya, jelas Stanislaus, ia meyakini AS tidak akan langsung melakukan serangan seperti ancaman yang digembar-gemborkan oleh Trump.
Ia menyebut, Amerika akan melakukan serangan sedikit demi sedikit untuk menguji keseriusan Iran.
Namun, ia menilai selama ini Iran adalah negara yang berani. Mereka tidak hanya punya modal senjata, tetapi juga memiliki ideologi.
Sementara itu, AS adalah entitas yang memiliki persenjataan militer kuat. Negeri Paman Sam juga didukung oleh beberapa negara lain.
"Saya kira ini kalau head-to-head sebenarnya mempunyai kelebihan masing-masing dan cukup berbahaya sebenarnya bagi kondisi dunia saat ini," paparnya.
Baca juga: AS dan Iran Saling Ancam soal Selat Hormuz, Deadline hingga Selasa Pagi
Ia menyatakan bahwa gertakan dari AS sudah dipahami betul oleh Iran sehingga mereka siap menghadapi ancaman tersebut.
Stanislaus mengingatkan bahwa Iran akan didukung oleh mayoritas masyarakatnya sehingga hal itu perlu diperhitungkan oleh AS.
"Walaupun mungkin ada juga entitas-entitas di Iran yang mungkin tidak setuju dengan perang, tapi Iran adalah negara yang dibangun strukturnya dengan struktur ideologis. Saya kira ini cukup kuat gitu loh. Jadi jangan dianggap sepele itu," tegasnya.
Ia menekankan, jika perang terus berlangsung yang mengalami kerepotan bukan hanya AS dan Iran, melainkan juga banyak negara lain, termasuk Indonesia.